Tuesday, November 3, 2015

Upacara Penutupan

“Pokoknya tidak boleh pakai balon!” ujar Eka sambil menghempaskan gulungan kertas di genggaman ke meja dengan kencang. 
Semua terdiam. Aku berdeham dengan canggung, lalu bertanya perlahan “OK, tapi kenapa?”
“Kalian semua tahu kan, balon yang dilepas ke udara itu suatu saat akan kehabisan udara, lalu turun ke bumi jadi sampah, yang bisa jadi akan berakhir di laut, termakan oleh binatang, lalu binatangnya keracunan atau bahkan mati.” papar Eka dalam satu hembusan nafas.
“Woles aja sih, nggak usah pake otot.” sahut Anjar, ketua kelompok kami dengan santai.
“Tapi lihat di youtube, banyak acara penutupan sebelumnya yang pake balon, dan itu keren, anak-anak senang.” Diaz sang fotografer yang sedari tadi diam pun ikut bersuara. 
“Not us, please.” Nada bicara Eka melunak “Kita nggak mau kan jadi pembunuh cuma gara-gara upacara penutupan keren pake balon?”
Rapat hari itu ditutup tanpa solusi.

Kegiatan Kelas Inspirasi yang akan kami lakukan minggu depan adalah kegiatan satu hari untuk sharing mengenai profesi masing-masing relawan pengajar. Tujuannya supaya para siswa mengenal berbagai macam profesi selain yang ada di sekitar mereka saat ini. Sangat mengenaskan saat survey, dimana mayoritas anak laki-laki menyatakan cita-cita mereka adalah pemain sepak bola sementara anak perempuan bercita-cita menjadi artis. Menurut Eka, mereka kebanyakan nonton televisi.

Sudah satu minggu lewat dari rapat terakhir kami. Hampir semua detail sudah disiapkan, mulai dari jadwal mengajar, rundown dari upacara pembukaan hingga upacara penutupan, hingga tema sesi foto tiap kelas sesuai dengan profesi pengajar terakhir. Satu hal yang masih belum selesai, upacara penutupan. Notifikasi group whatsapp berdenting tanpa henti, satu jam saja tidak dibuka akan memuncukan ratusan pesan tak terbaca. Berbagai ide selain pelepasan balon ditolak oleh Eka dengan alasan menyampah. Hingga akhirnya Diaz memunculkan ide: gelembung sabun. 

“Satu, mudah didapat. Kayaknya semua orang punya deterjen dirumahnya. Dua, murah. Kita tinggal beli kawat untuk peniupnya dan manfaatin ember untuk tempat mencampur deterjen sama air. Tiga, nggak nyampah. Air sabun sisa bisa dialirkan ke selokan dan kawatnya bisa dipake lagi untuk keperluan lain.” ketik Diaz dalam pesannya. Semua anggota grup setuju, dan dibagilah tugas siapa saja yang membawa ember, deterjen, dan kawat.


Pada hari H, upacara pembukaan hingga sesi mengajar tiap kelas berjalan lancar. Bel tanda pulang sekolah berbunyi, para siswa, guru, dan relawan pengajar berkumpul dilapangan untuk upacara penutupan. Setelah selesai upacara, tibalah sesi foto bersama. Para siswa dibariskan dengan kelas kecil di paling depan, menghadapi puluhan ember berisi larutan deterjen dengan antusias meniup gelembung-gelembung sabun bahkan sebelum dikomando untuk itu. Diaz memberi aba-aba untuk meniup gelembung sabun: “Satu.. dua… tiga!” Gelembung sabun bertebaran diudara, saat tiba-tiba angin bertiup ke arah para siswa. Sorak-sorai berganti derai tangis, saat gelembung sabun tersebut pecah mengenai mata para siswa.

-Ririe-
151015
Coffindo
CS Bandung Writers' Club 3rd Meeting

No comments:

Post a Comment