Wednesday, November 25, 2015

Looking at Your Back

There you are again, in the same seat every week, as I sit in the corner of this pub. Each time I've seen you, you sit alone. Each week has gone by without a chance to see your face. What I could see was your back, broad shoulders and big biceps surrounded by the cuffs of your short-sleeve shirt. You made me curious, but I didn't have the guts to get up and go to your table, to ask your name, or to buy you a drink. However, you have succeeded in making me come here every week. Just to see your back. 

One night, I brought my date here. It was a good night. Nonetheless, I kept glancing at your back and of course he finally realised why I'd brought him to this pub, and left right away. 

My best friend told me that I should make the first move. Open your heart and have courage. Take a chance. But I never listened to his advice. 

Tonight I finally hear my conscience telling me to get my ass up and go over to your table. As I'm walking towards you, I lose control of my body. Just a few more steps to your table, I turn and go back to my corner. Sometime later I realise what happened. I'm too afraid to see your face. What if you're nothing like I've imagined? What if my perfect image is shattered by the reality of you? Call me shallow, but I think it's enough for me to see you from behind. Your perfectly broad shouldered back, which I can only look at and admire. Just like this. Me and your back.

-Mikael Setiawan-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting 

Risa

"Risa!"

Aku membereskan tumpukan kertas di mejaku. Beberapa naskah permukaannya sudah jadi sarang debu. Bahkan ada yang belum kusentuh selama beberapa minggu, padahal ...

"RISA!"

"Ya!" Buru-buru aku melangkah ke ruangan manajerku. Melihat wajahnya sekilas saja aku sudah tahu kalau ada yang tidak beres. Dahinya berkerut, alisnya bertemu. Tangannya menggenggam dummy buku cerita bergambar tokoh dunia yang kuletakkan di mejanya tadi pagi. Helen Keller adalah tokoh ...

"Kenapa ilustrasinya begini?" tanya Pak Heru dengan nada meninggi. Kini dummy itu dia sodorkan kepadaku, terbuka pada bagian di mana seluruh halamannya hitam. Tidak ada gambar. Sekilas seperti tidak ada tulisan. Setelah aku dummy berpindah ke tanganku, Pak Heru membuang mukanya.

"Ee, Pak ...." Aku tergagap, menghadap punggung Pak Heru. "Helen Keller kan buta dan tuli. Ilustrasi ini menggambarkan sebuah dunia dari sudut pandang ...."

"Pemborosan," potong Pak Heru tidak sabar. "Kok kamu nggak tanya saya sih?"

"Menurut saya ...."

Bukan pemborosan karena pada halaman itu sesungguhnya ada narasi tulisan, tapi dalam huruf-huruf timbul. Anak-anak bisa membaca dengan merabanya.

Rangkaian kata itulah yang ingin kuucapkan. Namun, lidahku berhenti bergerak setelah kata 'saya'.

Pak Heru lantas menarik napas panjang. Dia menggelengkan kepalanya, seperti memaklumi anak usia lima tahun yang masih juga membasahi kasurnya. "Sekarang kamu revisi narasi dan ilustrasinya. Pakai ilustrator yang bisa kerja ngebut. Ingat buku ini mesti masuk percetakan dalam waktu dua hari," katanya.

Ketika beranjak keluar, aku mendengar Pak Heru menggumam, "Saya heran, kamu sudah lama kerja di sini, tapi masih belum juga mengerti soal-soal seperti ini." Kata-kata itu serasa menusuk punggungku.

Saat kembali menghadapi meja, perasaanku bercampur aduk. Aku benci Pak Heru. Dia seolah tidak mau tahu. Dia sering bilang seharusnya aku lebih inisiatif, tapi inilah yang terjadi ketika apa yang kukerjakan tidak sesuai keinginannya.

Dulu ketika pertama bekerja di sini, aku senang karena mendapat sebuah meja kerja yang luas. Kupikir ada banyak hal yang bisa kukerjakan di atasnya. Namun pada akhirnya setiap permukaan kosong malah jadi tempat menumpuknya pekerjaan yang tertunda.


Dan aku khawatir, setiap kata pembelaan, setiap ungkapan sakit hati yang selalu kutelan, semua menumpuknya di punggung. Karena saat ini, punggungku sakit sekali.

-Andika Budiman-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Punggung

“Oi. Apa tantangan hari ini?”

“You decide.”

“Yakin, nih?”

Dia ngangguk.

Sambil ngangkat dagu, belagak mau ngasih tantangan maut, gue mulai muter otak. Jelas, tantangannya mesti bisa gue menangin, tapi doi masih bisa bersaing kompetitif. Biar adil dong, Bro. Biar nggak berat sebelah. Gue Cuma butuh waktu sepuluh detik buat meletusin ide, “Nyelamatin anak kucing sebanyak-banyaknya!”

Dia tercengang kaget. Sambil ketawa. “What? What kind of challenge is that?”

“Yaaa… challenge is kind is that,” jawab gue, sengaja harus ngaco bahasa Inggrisnya, biar anti-mainstream.

“How does it work?” Dia mulai ngangkat satu alis. Biasanya gue suka kesengsem kalo mukanya mulai sok-sok nantang kayak begitu. Seksi aja Bro ngelihatnya.

“Yang menang challenge, yang paling banyak nyelamatin anak kucing hari ini.”

“How do we know that we really help a cat?”

“Yaaa… by photo-photo, selfie-selfie, before after and so on and so on.”

Dia ketawa geli ngedenger gue. “So, before we really help these kittens, we have to make sure that we take a picture of them, then help, then take a picture again?”

“Iya. So, so lah, pokoknya. Like that, like that.”

Dia geleng-geleng kepala, masih sambil ketawa geli. “Okay. Challenge accepted.”

Jadi gini, Bro. Gue, ama si dia ini nih, setiap hari punya satu tantangan yang mesti diselesain sebelum jam tujuh malem. Iseng-iseng aja. Kayak anak alay, kagak ada kerjaan. Tapi lumayan, silaturahmi gue makin terasah ama ni orang, jadi niat gue buat pedekate juga lancar jaya 86. Kadang tantangannya tuh siapa yang paling banyak makan daun singkong di nasi padang, siapa yang paling cepet nyampe ke kampus, siapa yang paling murah naik angkot, atau kemaren tantangannya siapa yang paling banyak dapetin kacang ijo pake duit lima ribu perak.

Setelah tantangan selesai, pemenangnya boleh ngelakuin apa pun ke si yang kalah. Sejauh ini doi yang paling sering menang. Atau dalam kamus gue, guenya yang banyak ngalah. Hihi. Biar dia makin sayang aja ama gue, Bro. Biasanya, permintaan dia suka aneh-aneh kalo gue yang kalah. Suruh bersihin ban mobil tetangga, lah. Suruh ngembaliin buah mangga ke pohonnya, lah. Suruh jagain lilin di tukang sate madura, lah—padahal nggak ada yang berubah jadi babi, tapi tetep aja gue suruh jagain. Tiga hari yang lalu pas gue kalah, gue disuruh kenalan ama kuntilanak, terus foto bareng.

“So, what’s the prize for today?” tanya dia.

“Kamu dulu,” kata gue.

“Okay. If I win this challenge, I want you to clean my closet. I’ve been dying to look for a spare time in arranging all those messy stuff. Argh.”

“Siaaappp!” jawab gue.

“How about you?”

“Gue? Gue pengen peluk lo.”

“Hug me? Why?”

Gue ngangkat bahu. “Pengen aja. Entar gue kasih tahu alasannya.”

Lalu, berpisahlah gue ama dia. Dia pergi ke kampus, gue pergi ke studio musik gue. Kagak ada jadwal latihan atau apa sih. Jadwal gue hari ini ya menangin challenge yang gue buat sendiri. Jadi, gue datang ke gang-gang, gue set biar kucing-kucing yang gue temuin berada dalam bahaya. Udah gitu gue foto, gue selamatin, gue foto lagi. Kan lumayan. Selain bikin ini kucing bisa latihan jadi fotomodel, gue juga belajar fotografi.

Kucing pertama yang gue temuin warnanya oranye-putih, agak kurus dan matanya ijo. Tapi pas gue samperin, dianya kabur. Sampe ngelompat ke halaman rumah orang. Gue kejer dia sepanjang lima gang di RT sebelah, kagak berhasil juga. Pantesan suka ada istilah kucing garong, ya. Abisnya mereka kalo kabur ahli banget. Padahal nggak akan gue rampok atau perkosa juga. Nggak ngerti gue ini kucing barusan kenapa somse amat.

Kucing kedua punyanya Adis, namanya Poxi. Karena gue udah tanggung nyasar ke gang RT sebelah, ya udah gue mampir di sana sebentar. Gue fotoin kucing itu kayak yang mau jatuh dari jemuran kosannya Adis, lalu gue tolongin, dan gue foto lagi pas kucingnya udah selamet. Dibantuin Adis malah. Sampe 35 take gambar, padahal yang diambil Cuma satu.

Lama-lama ini jadi kayak yang nggak meyakinkan. Abisnya si Poxi kagak pernah main ke atas jemuran. Kok kayaknya idiot aja dia mendadak berubah kepribadian dan muncul di atas sana sampe-sampe gue mesti nolongin segala.

Tapi gue move on, Bro. Gue cari kucing lain.

Kucing ketiga kucing liar lagi. Yang lebih ramah-tamah, tenggang rasa, rajin menabung, dan apa pun yang jadi judul buku paket PPKn. Gue kondisiin dia ada di atas pohon jambu deket rumahnya Kades. Gue fotoin. Lalu, gue turunin lagi, dan gue fotoin lagi karena gue berhasil bawa doi ke atas tanah. Fotonya sih meyakinkan. Apalagi gambarnya agak-agak blur, jadi kesannya kayak yang bener-bener darurat gitu.

Cuman bahlulnya, begitu selesai photoshoot, ini kucing langsung lompat naik ke atas pohon jambu, dan bobo di sana. Sial. Kata Pak Kades, emang di situ rumahnya.

Udahlah, ya. Si dia nggak perlu tahu kalo kucingnya nggak pernah perlu diselamatin dari atas pohon.

Kucing berikutnya? Banyak, Bro. Sampe jam tujuh malem gue udah syuting ama sepuluh kucing. Nyaris di banyak gang dan kampung-kampung. Ada yang ceritanya kejebak di gorong-gorong, ada yang nyaris digoreng sama tukang bala-bala, ada yang nyaris ditendang sama tukang nasi padang, ada yang lagi dikejar anjing chihuahua, ada yang nyangkut di jendela, sampe ada yang lagi nyeberang gue potoin aja… padahal tuh kucing udah cukup dewasa dan berhati-hati dalam menyeberang. Cuma tetep aja pas di seberang gue ajak foto bareng. Ceritanya, gue yang bantu dia nyeberang.

Jam tujuh malem, gue ketemu lagi ma dia. Lokasinya di atap rumah gue. Gue ajak ke sana. Buat lihat bintang-bintang. Biar romantis. Biar kayak pujangga.

“How was your day?” tanyanya.

“Penuh kebaikan,” jawab gue, berusaha terdengar bijak. “So your day how was?”

Dia ketawa. Selalu ketawa ngedenger bahasa Inggris gue. “It was fun. But I didn’t get many pictures of me helping cats in emergency.”

“Coba mana fotonya?”

Dia ngasih tunjuk tiga foto doang. Fotonya sih believable, kayak bener-bener emang butuh bantuan tuh kucing. Ada yang kejepit di pagar. Ada yang masuk ke sumur. Dan ada yang lagi nyari anak-anaknya. Gue sampai nangis Bro lihatnya.

“Your turn,” kata dia.

Ya udah, gue tunjukin semua foto yang gue dapet. Dia ketawa. Jumlahnya sih banyak. Dan kayaknya dia ngeh juga kalo gue malsuin nyaris semuanya kayak anggota DPR cuci uang hasil korupsi mereka.
“Looks like you win, tonight. Congratulations.”

Gue lemparin cengiran lebar.

Dia lalu ngerentangin tangannya, membiarkan tubuh dia buat gue peluk. “So, come here. Hug me.”

Dengan senyum yang lebih romantis, gue berjalan muterin dia. Berjalan ke belakang dia. Lalu gue peluk dia dari belakang.

Dia heran. “You want to hug me from the back?”

“Yoyoy.”

“Why?”

“Gue pengen nyentuhin badan gue sama punggung lo.”

Dia ketawa. “And why is that?”

Giliran gue yang ketawa. “Meluk dari belakang gini tuh, ngerangkul badan lo dari punggung, ngebikin gue bisa ngelindungin lo lebih erat. Lebih waspada. Dan lebih aman.”

“That’s not even related.”

“Related, kok,” sanggah gue. “Lo lihat tangan gue sekarang? Tangan kan organ yang paling lincah dalam melindungi diri. Karena gue meluk dari punggung, tangan gue bisa terjulur ke depan, posisinya lebih deket sama hati lo. Lebih aman buat ngelindungin lo.”


Dia nggak ketawa. Tapi senyumnya yang tulus bisa gue rasain dari pipi kami yang akhirnya bertemu. Lalu, sambil berbisik, dia berkata, “You know what. I love today’s challenge. And I’m glad that you won the game.”

-Moemoe Rizal-
121115
Cafe Halaman

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Voted as Favorite Story of The Night

Punggung

Jika ada yang diberi pertanyaan, "Apa yang paling kau ingat tentang mantan kekasih terakhirmu?" mungkin mereka akan menjawab, "Hangatnya," "Senyumnya," "Wanginya," "Matanya," "Hidungnya," atau bahkan, "Ciumannya."

Dan aku akan menjawab, "Punggungnya."


Ah, mana bisa kulupakan kau dan punggungmu itu. Punggung yang sama sekali tidak kokoh sebenarnya, karena kau termasuk sangat kurus untuk ukuran pria seumuranmu. Tapi punggungmu itu, ya, yang kurus ceking itu, adalah punggung yang selama ini menentramkanku. Punggungmu itu selalu menyembunyikanku dari dinginnya angin malam kota Bandung sehabis hujan. Kau tentu ingat betapa erat pelukanku di atas motor tuamu. Dan punggungmu selalu bisa kujadikan sandaran dan penampung air mata. Sudah kubilang aku berjanji tidak pernah menangis di depanmu kan? Aku menepatinya. Aku sering menangis diam-diam di belakangmu. Aku tau bahwa kau tau itu. Tapi aku tak peduli selama kau tetap pura-pura tak peduli.


Sampai kini aku masih bertanya pada semesta, mengapa harus punggung kurus ceking favoritku itu menjadi hal yang terakhir yang kulihat darimu di lorong samping laboratorium setelah kau berkata lirih, "Kita sampai di sini saja ya Dik, aku mau kembali pada tunanganku di Surabaya."

-Rahadini Windia-
121115
Malang

CS Bandung Writers' Club 7th Meeting

Our Plushies

Let's go back to the first time we met. It was the eye contact, although we quickly turned our heads away, that I remember. I still remember how you bashfully tried to look at me when I didn't look at you. I didn't even get your name . We always went to that coffee shop on the same day of the week, at the same time, and we sat opposite each other. I guess we both enjoyed our non-conversational meetings. I usually arrived first and would anxiously wait for you. But one day when I was running late, I finally got your name. The barista called your order while I was waiting in line. That same day I finally had enough courage to go up to your table and ask you for a date.


Our first date was bizarre and disastrous. We missed our reservation at the restaurant, so we decided to eat at a diner instead. How weird was it when the waitress accidentally knocked over your drink and soaked your shirt? You went to the toilet but all the hand dryers were broken. So you sat back down and continued eating with your wet shirt. We cancelled going to the cinema because I didn't want you to get sick. We couldn't find a taxi so we had to walk home. None of that put us off. At least our later dates went well.


Our first-month anniversary brought us a new tradition. You gave me a teddy bear. Soon our history was filled with stuffed animals. A panda for Valentine’s day. A reindeer for Christmas. A dog for our one-year-anniversary. A giraffe for your birthday. A penguin when we decided to move in together. A lion for my birthday. An orca whale for your promotion at the office. And an elephant when I asked you to marry me.


So now here, in front of God, people that we love and love us, and all our stuffed animals, I promise to bring you joy, I promise to be there for you to cuddle, I promise to lend you my shoulder to cry on, just like our plushie. So, I, John take you, Paul as my lawful husband, for better or worse, in sickness and health, till death do us part.  

-Mikael Setiawan-
221015
Cabe Garam

CS Bandung Writers' Club 4th Meeting

Voted as Favorite Story of The Night

Surat Kepada Kawan

Kawan,
Terima kasih untuk semua waktu yang kau sisihkan untukku.
Terima kasih untuk segala doa yang kau panjatkan atas namaku
Terima kasih untuk seluruh usaha yang kau perjuangkan untuk pertemanan kita

Kau yang ada ketika aku berada di langit ke tujuh saat ku jatuh cinta padanya
Kau yang ada di kala aku berhasil memenangkan hatinya
Kau yang ada sesaat aku ditinggalkannya

Aku masih ingat semua impian kita
Aku masih ingat semua resolusi kita
Aku masih ingat semua janji kita

Semua yang kita lafalkan keras-keras sembari menautkan jari-jari kelingking kita agar kita berusaha keras mencapai apa yang kita dambakan

Sebuah ritual yang menjadi tradisi kita setiap tanggal satu Januari

Ritual yang kita jadikan batu pijakan selama setahun berikutnya

Tahun di mana semuanya berubah

Kawan,
Maafkan aku untuk semua keacuhanku akan perasaanmu
Maafkan aku untuk segala cara yang kulakukan untuk mendapatkannya
Maafkan aku untuk seluruh niatku menggunakanmu demi kepentingan diri sendiri

Aku yang tahu bahwa kau menyukaiku tapi tak kuhiraukan
Aku yang tahu bahwa kau akan melakukan apapun untukku
Aku yang tahu bahwa kau terluka setiap saat kau melihatku dengannya

Kau selalu menyediakan bahumu untuk isak tangisku
Kau selalu meloncat kegirangan bersamaku saat aku bahagia
Kau selalu tersenyum walaupun dalam hati kau menjerit

Semua berubah saat kau memutuskan untuk bergabung dengan korps relawan di Timur Tengah

Tempat dimana terjadinya kejadian itu.

Kejadian yang menyebabkan kau pulang lebih cepat dari yang kau rencanakan.


Walaupun kita tetap bertemu di tanggal satu Januari, tak mungkin aku menautkan jari kelingkingku padamu. Bukan karena kau lelah menungguku, tapi karena kecelakaan itu membuatmu kehilangan jari kelingkingmu.

-Mikael Setiawan-
051115
Giggle Box

CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Red Eyes

Thursday

9.30 am


My eyes are red, itchy and glassy. I wish I could scratch them, but the possibility of losing my sight prevents me from doing so. God, what happened? It was supposed to be a good day, but it starts with a twitch of/in my eyes. Old people say it means someone misses you. But you know me. I'm very skeptical about superstitions. I try to ignore it but the burning sensation forces me to give up. Finally, I scratch them.


12.15 pm


The pain has shifted to my throat now. The phlegm resides there and refuses to leave its comfort zone. It doesn’t matter how many times I've tried, the mucus lingers in my throat. Sometimes I can feel it reach my mouth, if I cough hard enough, but then it goes straight back to the larynx. I feel uncomfortable as the people around me start to get annoyed with my continuous and disturbing bark.


15.45 pm


It's been more than six hours since the symptoms started. I don’t show any signs of getting better. Now it’s/I’m even worse, I can’t breathe. The bronchioles in my lungs seem to be shutting down the path of the air through my lungs. My chest is constricted. I'm
wheezing like I'm having an asthma attack. My brain keeps wondering why all of this is happening today. A sudden flashback reminds me realise it all started this morning, when I got your message saying you wanted to break up.  

-Mikael Setiawan-
081015
Coffindo

CS Bandung Writers' Club 2nd Meeting