Hemm.. Yang terlintas di benak saya ketika mendengar kata punggung adalah tak terlihat. Iya tak
terlihat, karena menurut saya pribadi kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri seutuhnya. Kita dapat
melihatnya secara utuh dengan bantuan media lain, entah itu kaca, atau melalui mata orang lain.
Sehingga punggung ini merupakan anggota badan yang agak “misterius”. Kenapa misterius? Karena ada
beberapa hal sih, lebih tepatnya dua dulu deh yang kayaknya kalau ditilik-tilik lagi ya mungkin bisa jadi
iya. Nah, saya coba paparkan ya kenapa akhirnya si punggung itu misterius.
Pertama, karena kehadiran punggung itu sangat penting namun seringkali tidak kita sadari. Contohnya
saja saat ini baru kepikiran tentang si punggung setelah dapat tema untuk menulis. Padahal kan
punggung itu bagian yang menopang tubuh kita melalui tulang belakang yang ada didalamnya. Makanya
si punggung itu sebenarnya sama pentingnya dengan tulang belakang, namun sayangnya kita sering
melupakan jasa bahkan kehadirannya. Malah seringkali kita sadar kehadiran si punggung itu kalau udah
berasa sakit. Nih misalnya kita lagi sakit punggung karena lelah beraktivitas, atau punggung kita sakit
gatal yang membuat kita jadi garuk-garuk punggung. Nah, misterius kan ya si punggung itu apalagi
mengingat eksistensinya yang hampir tak terlintas di benak kita, kecuali pas kalau lagi adatrouble aja.
Kedua, punggung itu misterius karena dia adalah bagian tubuh yang jarang terlihat secara langsung jika
sehari-hari kita beraktivitas, beda halnya dengan si tangan, kaki, muka, dan beberapa anggota lain yang
terlihat di wajah. Menurut saya, walaupun punggung tak terekspos secara langsung, ia dapat
menggambarkan bagaimana keadaan seseorang secara tidak langsung. Misalnya punggung yang agak
bongkok mungkin bisa jadi orang tersebut agak minder, entah itu karena alasan fisik maupun non-fisik.
Eh tapi bisa juga deng punggung yang bongkok itu gegara emang sikap duduk atau berdiri yang kurang
baik, malas dan telah menjadi terbiasa (saya juga agak bongkok sih hehe). Atau bisa jadi punggungnya
bongkok karena pernah mengalami kecelakan, seperti yang dialami oleh instruktur kursus mengemudi
Saya. Tapi beliau bisa teap beraktivitas normal kok, hebat ya si punggung itu walaupun ada kelainan
terhadapnya tetap saja dia salah satu hero dari tubuh ini. Nah lain halnya dengan punggung yang tegak
apalagi dengan dada yang membusung, biasanya sih menandakan kalau orang tersebut orang yang
percaya diri dan bangga akan dirinya. Yah, terlepas dari kondisi punggung orang tersebut, Intinya mah
ada ‘sesuatu’ yang telah terjadi dalam hidup seseorang itu, baik disadari atau tidak tapi terpancar lewat
sang punggung.
Nampaknya sekian dulu u
ntuk tulisan mengenai si punggung yang misterius. Ingat bahwa misterius itu bukan berarti suatu hal
yang mengandung aura mistis atau negatif, tapi bisa juga jadi misterius karena kehadirannya atau
kebermanfaatannya yang penting namun terkadang bahkan telupakan. Terkadang perlu momen
tertentu agar kemisteriusannya itu bisa terangkat dan disadari perannya. Persis kayak si punggung itu.
-Santi Rahmawati-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Showing posts with label 7#Punggung. Show all posts
Showing posts with label 7#Punggung. Show all posts
Saturday, December 5, 2015
Wednesday, November 25, 2015
Looking at Your Back
There you are again, in the same seat every week, as I sit in the corner of this pub. Each time I've seen you, you sit alone. Each week has gone by without a chance to see your face. What I could see was your back, broad shoulders and big biceps surrounded by the cuffs of your short-sleeve shirt. You made me curious, but I didn't have the guts to get up and go to your table, to ask your name, or to buy you a drink. However, you have succeeded in making me come here every week. Just to see your back.
One night, I brought my date here. It was a good night. Nonetheless, I kept glancing at your back and of course he finally realised why I'd brought him to this pub, and left right away.
My best friend told me that I should make the first move. Open your heart and have courage. Take a chance. But I never listened to his advice.
Tonight I finally hear my conscience telling me to get my ass up and go over to your table. As I'm walking towards you, I lose control of my body. Just a few more steps to your table, I turn and go back to my corner. Sometime later I realise what happened. I'm too afraid to see your face. What if you're nothing like I've imagined? What if my perfect image is shattered by the reality of you? Call me shallow, but I think it's enough for me to see you from behind. Your perfectly broad shouldered back, which I can only look at and admire. Just like this. Me and your back.
-Mikael Setiawan-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Risa
"Risa!"
Aku membereskan tumpukan kertas di mejaku.
Beberapa naskah permukaannya sudah jadi sarang debu. Bahkan ada yang belum
kusentuh selama beberapa minggu, padahal ...
"RISA!"
"Ya!" Buru-buru aku melangkah ke ruangan
manajerku. Melihat wajahnya sekilas saja aku sudah tahu kalau ada yang tidak
beres. Dahinya berkerut, alisnya bertemu. Tangannya menggenggam dummy buku cerita bergambar tokoh dunia
yang kuletakkan di mejanya tadi pagi. Helen Keller adalah tokoh ...
"Kenapa ilustrasinya begini?" tanya Pak
Heru dengan nada meninggi. Kini dummy
itu dia sodorkan kepadaku, terbuka pada bagian di mana seluruh halamannya hitam.
Tidak ada gambar. Sekilas seperti tidak ada tulisan. Setelah aku dummy
berpindah ke tanganku, Pak Heru membuang mukanya.
"Ee, Pak ...." Aku tergagap, menghadap
punggung Pak Heru. "Helen Keller kan buta dan tuli. Ilustrasi ini
menggambarkan sebuah dunia dari sudut pandang ...."
"Pemborosan," potong Pak Heru tidak
sabar. "Kok kamu nggak tanya saya sih?"
"Menurut saya ...."
Bukan
pemborosan karena pada halaman itu sesungguhnya ada narasi tulisan, tapi dalam
huruf-huruf timbul. Anak-anak bisa membaca dengan merabanya.
Rangkaian kata itulah yang ingin kuucapkan. Namun,
lidahku berhenti bergerak setelah kata 'saya'.
Pak Heru lantas menarik napas panjang. Dia
menggelengkan kepalanya, seperti memaklumi anak usia lima tahun yang masih juga
membasahi kasurnya. "Sekarang kamu revisi narasi dan ilustrasinya. Pakai
ilustrator yang bisa kerja ngebut. Ingat buku ini mesti masuk percetakan dalam
waktu dua hari," katanya.
Ketika beranjak keluar, aku mendengar Pak Heru
menggumam, "Saya heran, kamu sudah lama kerja di sini, tapi masih belum
juga mengerti soal-soal seperti ini." Kata-kata itu serasa menusuk
punggungku.
Saat kembali menghadapi meja, perasaanku bercampur
aduk. Aku benci Pak Heru. Dia seolah tidak mau tahu. Dia sering bilang
seharusnya aku lebih inisiatif, tapi inilah yang terjadi ketika apa yang
kukerjakan tidak sesuai keinginannya.
Dulu ketika pertama bekerja di sini, aku senang
karena mendapat sebuah meja kerja yang luas. Kupikir ada banyak hal yang bisa
kukerjakan di atasnya. Namun pada akhirnya setiap permukaan kosong malah jadi
tempat menumpuknya pekerjaan yang tertunda.
Dan aku khawatir, setiap kata pembelaan, setiap
ungkapan sakit hati yang selalu kutelan, semua menumpuknya di punggung. Karena
saat ini, punggungku sakit sekali.
-Andika Budiman-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Punggung
“Oi. Apa tantangan hari ini?”
“You decide.”
“Yakin, nih?”
Dia ngangguk.
Sambil ngangkat dagu, belagak mau ngasih tantangan
maut, gue mulai muter otak. Jelas, tantangannya mesti bisa gue menangin, tapi
doi masih bisa bersaing kompetitif. Biar adil dong, Bro. Biar nggak berat
sebelah. Gue Cuma butuh waktu sepuluh detik buat meletusin ide, “Nyelamatin
anak kucing sebanyak-banyaknya!”
Dia tercengang kaget. Sambil ketawa. “What? What kind
of challenge is that?”
“Yaaa… challenge is kind is that,” jawab gue, sengaja
harus ngaco bahasa Inggrisnya, biar anti-mainstream.
“How does it work?” Dia mulai ngangkat satu alis.
Biasanya gue suka kesengsem kalo mukanya mulai sok-sok nantang kayak begitu.
Seksi aja Bro ngelihatnya.
“Yang menang challenge, yang paling banyak nyelamatin
anak kucing hari ini.”
“How do we know that we really help a cat?”
“Yaaa… by photo-photo, selfie-selfie, before after and
so on and so on.”
Dia ketawa geli ngedenger gue. “So, before we really
help these kittens, we have to make sure that we take a picture of them, then
help, then take a picture again?”
“Iya. So, so lah, pokoknya. Like that, like that.”
Dia geleng-geleng kepala, masih sambil ketawa geli.
“Okay. Challenge accepted.”
Jadi gini, Bro. Gue, ama si dia ini nih, setiap hari punya
satu tantangan yang mesti diselesain sebelum jam tujuh malem. Iseng-iseng aja.
Kayak anak alay, kagak ada kerjaan. Tapi lumayan, silaturahmi gue makin terasah
ama ni orang, jadi niat gue buat pedekate juga lancar jaya 86. Kadang
tantangannya tuh siapa yang paling banyak makan daun singkong di nasi padang,
siapa yang paling cepet nyampe ke kampus, siapa yang paling murah naik angkot,
atau kemaren tantangannya siapa yang paling banyak dapetin kacang ijo pake duit
lima ribu perak.
Setelah tantangan selesai, pemenangnya boleh ngelakuin
apa pun ke si yang kalah. Sejauh ini doi yang paling sering menang. Atau dalam
kamus gue, guenya yang banyak ngalah. Hihi. Biar dia makin sayang aja ama gue,
Bro. Biasanya, permintaan dia suka aneh-aneh kalo gue yang kalah. Suruh
bersihin ban mobil tetangga, lah. Suruh ngembaliin buah mangga ke pohonnya,
lah. Suruh jagain lilin di tukang sate madura, lah—padahal nggak ada yang
berubah jadi babi, tapi tetep aja gue suruh jagain. Tiga hari yang lalu pas gue
kalah, gue disuruh kenalan ama kuntilanak, terus foto bareng.
“So, what’s the prize for today?” tanya dia.
“Kamu dulu,” kata gue.
“Okay. If I win this challenge, I want you to clean my
closet. I’ve been dying to look for a spare time in arranging all those messy
stuff. Argh.”
“Siaaappp!” jawab gue.
“How about you?”
“Gue? Gue pengen peluk lo.”
“Hug me? Why?”
Gue ngangkat bahu. “Pengen aja. Entar gue kasih tahu
alasannya.”
Lalu, berpisahlah gue ama dia. Dia pergi ke kampus,
gue pergi ke studio musik gue. Kagak ada jadwal latihan atau apa sih. Jadwal
gue hari ini ya menangin challenge yang gue buat sendiri. Jadi, gue datang ke
gang-gang, gue set biar kucing-kucing yang gue temuin berada dalam bahaya. Udah
gitu gue foto, gue selamatin, gue foto lagi. Kan lumayan. Selain bikin ini kucing
bisa latihan jadi fotomodel, gue juga belajar fotografi.
Kucing pertama yang gue temuin warnanya oranye-putih,
agak kurus dan matanya ijo. Tapi pas gue samperin, dianya kabur. Sampe
ngelompat ke halaman rumah orang. Gue kejer dia sepanjang lima gang di RT
sebelah, kagak berhasil juga. Pantesan suka ada istilah kucing garong, ya.
Abisnya mereka kalo kabur ahli banget. Padahal nggak akan gue rampok atau
perkosa juga. Nggak ngerti gue ini kucing barusan kenapa somse amat.
Kucing kedua punyanya Adis, namanya Poxi. Karena gue
udah tanggung nyasar ke gang RT sebelah, ya udah gue mampir di sana sebentar.
Gue fotoin kucing itu kayak yang mau jatuh dari jemuran kosannya Adis, lalu gue
tolongin, dan gue foto lagi pas kucingnya udah selamet. Dibantuin Adis malah.
Sampe 35 take gambar, padahal yang diambil Cuma satu.
Lama-lama ini jadi kayak yang nggak meyakinkan.
Abisnya si Poxi kagak pernah main ke atas jemuran. Kok kayaknya idiot aja dia
mendadak berubah kepribadian dan muncul di atas sana sampe-sampe gue mesti
nolongin segala.
Tapi gue move on, Bro. Gue cari kucing lain.
Kucing ketiga kucing liar lagi. Yang lebih
ramah-tamah, tenggang rasa, rajin menabung, dan apa pun yang jadi judul buku
paket PPKn. Gue kondisiin dia ada di atas pohon jambu deket rumahnya Kades. Gue
fotoin. Lalu, gue turunin lagi, dan gue fotoin lagi karena gue berhasil bawa
doi ke atas tanah. Fotonya sih meyakinkan. Apalagi gambarnya agak-agak blur,
jadi kesannya kayak yang bener-bener darurat gitu.
Cuman bahlulnya, begitu selesai photoshoot, ini kucing
langsung lompat naik ke atas pohon jambu, dan bobo di sana. Sial. Kata Pak
Kades, emang di situ rumahnya.
Udahlah, ya. Si dia nggak perlu tahu kalo kucingnya
nggak pernah perlu diselamatin dari atas pohon.
Kucing berikutnya? Banyak, Bro. Sampe jam tujuh malem
gue udah syuting ama sepuluh kucing. Nyaris di banyak gang dan kampung-kampung.
Ada yang ceritanya kejebak di gorong-gorong, ada yang nyaris digoreng sama
tukang bala-bala, ada yang nyaris ditendang sama tukang nasi padang, ada yang
lagi dikejar anjing chihuahua, ada yang nyangkut di jendela, sampe ada yang
lagi nyeberang gue potoin aja… padahal tuh kucing udah cukup dewasa dan
berhati-hati dalam menyeberang. Cuma tetep aja pas di seberang gue ajak foto
bareng. Ceritanya, gue yang bantu dia nyeberang.
Jam tujuh malem, gue ketemu lagi ma dia. Lokasinya di
atap rumah gue. Gue ajak ke sana. Buat lihat bintang-bintang. Biar romantis.
Biar kayak pujangga.
“How was your day?” tanyanya.
“Penuh kebaikan,” jawab gue, berusaha terdengar bijak.
“So your day how was?”
Dia ketawa. Selalu ketawa ngedenger bahasa Inggris
gue. “It was fun. But I didn’t get many pictures of me helping cats in
emergency.”
“Coba mana fotonya?”
Dia ngasih tunjuk tiga foto doang. Fotonya sih
believable, kayak bener-bener emang butuh bantuan tuh kucing. Ada yang kejepit
di pagar. Ada yang masuk ke sumur. Dan ada yang lagi nyari anak-anaknya. Gue
sampai nangis Bro lihatnya.
“Your turn,” kata dia.
Ya udah, gue tunjukin semua foto yang gue dapet. Dia
ketawa. Jumlahnya sih banyak. Dan kayaknya dia ngeh juga kalo gue malsuin
nyaris semuanya kayak anggota DPR cuci uang hasil korupsi mereka.
“Looks like you win, tonight. Congratulations.”
Gue lemparin cengiran lebar.
Dia lalu ngerentangin tangannya, membiarkan tubuh dia
buat gue peluk. “So, come here. Hug me.”
Dengan senyum yang lebih romantis, gue berjalan
muterin dia. Berjalan ke belakang dia. Lalu gue peluk dia dari belakang.
Dia heran. “You want to hug me from the back?”
“Yoyoy.”
“Why?”
“Gue pengen nyentuhin badan gue sama punggung lo.”
Dia ketawa. “And why is that?”
Giliran gue yang ketawa. “Meluk dari belakang gini
tuh, ngerangkul badan lo dari punggung, ngebikin gue bisa ngelindungin lo lebih
erat. Lebih waspada. Dan lebih aman.”
“That’s not even related.”
“Related, kok,” sanggah gue. “Lo lihat tangan gue
sekarang? Tangan kan organ yang paling lincah dalam melindungi diri. Karena gue
meluk dari punggung, tangan gue bisa terjulur ke depan, posisinya lebih deket
sama hati lo. Lebih aman buat ngelindungin lo.”
Dia nggak ketawa. Tapi senyumnya yang tulus bisa gue
rasain dari pipi kami yang akhirnya bertemu. Lalu, sambil berbisik, dia
berkata, “You know what. I love today’s challenge. And I’m glad that you won
the game.”
-Moemoe Rizal-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Voted as Favorite Story of The Night
Punggung
Jika ada yang diberi pertanyaan, "Apa yang paling kau ingat
tentang mantan kekasih terakhirmu?" mungkin mereka akan menjawab,
"Hangatnya," "Senyumnya," "Wanginya," "Matanya," "Hidungnya," atau
bahkan, "Ciumannya."
Dan aku akan menjawab, "Punggungnya."
Ah, mana bisa kulupakan kau dan punggungmu itu. Punggung
yang sama sekali tidak kokoh sebenarnya, karena kau termasuk sangat
kurus untuk ukuran pria seumuranmu. Tapi punggungmu itu, ya, yang kurus
ceking itu, adalah punggung yang selama ini menentramkanku. Punggungmu
itu selalu menyembunyikanku dari dinginnya angin malam kota Bandung
sehabis hujan. Kau tentu ingat betapa erat pelukanku di atas motor
tuamu. Dan punggungmu selalu bisa kujadikan sandaran dan penampung air
mata. Sudah kubilang aku berjanji tidak pernah menangis di depanmu kan?
Aku menepatinya. Aku sering menangis diam-diam di belakangmu. Aku tau
bahwa kau tau itu. Tapi aku tak peduli selama kau tetap pura-pura tak
peduli.
Sampai kini aku masih bertanya pada semesta, mengapa harus
punggung kurus ceking favoritku itu menjadi hal yang terakhir yang
kulihat darimu di lorong samping laboratorium setelah kau berkata lirih,
"Kita sampai di sini saja ya Dik, aku mau kembali pada tunanganku di
Surabaya."
-Rahadini Windia-
121115
Malang
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Subscribe to:
Posts (Atom)