Wednesday, November 25, 2015

Surat Kepada Kawan

Kawan,
Terima kasih untuk semua waktu yang kau sisihkan untukku.
Terima kasih untuk segala doa yang kau panjatkan atas namaku
Terima kasih untuk seluruh usaha yang kau perjuangkan untuk pertemanan kita

Kau yang ada ketika aku berada di langit ke tujuh saat ku jatuh cinta padanya
Kau yang ada di kala aku berhasil memenangkan hatinya
Kau yang ada sesaat aku ditinggalkannya

Aku masih ingat semua impian kita
Aku masih ingat semua resolusi kita
Aku masih ingat semua janji kita

Semua yang kita lafalkan keras-keras sembari menautkan jari-jari kelingking kita agar kita berusaha keras mencapai apa yang kita dambakan

Sebuah ritual yang menjadi tradisi kita setiap tanggal satu Januari

Ritual yang kita jadikan batu pijakan selama setahun berikutnya

Tahun di mana semuanya berubah

Kawan,
Maafkan aku untuk semua keacuhanku akan perasaanmu
Maafkan aku untuk segala cara yang kulakukan untuk mendapatkannya
Maafkan aku untuk seluruh niatku menggunakanmu demi kepentingan diri sendiri

Aku yang tahu bahwa kau menyukaiku tapi tak kuhiraukan
Aku yang tahu bahwa kau akan melakukan apapun untukku
Aku yang tahu bahwa kau terluka setiap saat kau melihatku dengannya

Kau selalu menyediakan bahumu untuk isak tangisku
Kau selalu meloncat kegirangan bersamaku saat aku bahagia
Kau selalu tersenyum walaupun dalam hati kau menjerit

Semua berubah saat kau memutuskan untuk bergabung dengan korps relawan di Timur Tengah

Tempat dimana terjadinya kejadian itu.

Kejadian yang menyebabkan kau pulang lebih cepat dari yang kau rencanakan.


Walaupun kita tetap bertemu di tanggal satu Januari, tak mungkin aku menautkan jari kelingkingku padamu. Bukan karena kau lelah menungguku, tapi karena kecelakaan itu membuatmu kehilangan jari kelingkingmu.

-Mikael Setiawan-
051115
Giggle Box

CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Red Eyes

Thursday

9.30 am


My eyes are red, itchy and glassy. I wish I could scratch them, but the possibility of losing my sight prevents me from doing so. God, what happened? It was supposed to be a good day, but it starts with a twitch of/in my eyes. Old people say it means someone misses you. But you know me. I'm very skeptical about superstitions. I try to ignore it but the burning sensation forces me to give up. Finally, I scratch them.


12.15 pm


The pain has shifted to my throat now. The phlegm resides there and refuses to leave its comfort zone. It doesn’t matter how many times I've tried, the mucus lingers in my throat. Sometimes I can feel it reach my mouth, if I cough hard enough, but then it goes straight back to the larynx. I feel uncomfortable as the people around me start to get annoyed with my continuous and disturbing bark.


15.45 pm


It's been more than six hours since the symptoms started. I don’t show any signs of getting better. Now it’s/I’m even worse, I can’t breathe. The bronchioles in my lungs seem to be shutting down the path of the air through my lungs. My chest is constricted. I'm
wheezing like I'm having an asthma attack. My brain keeps wondering why all of this is happening today. A sudden flashback reminds me realise it all started this morning, when I got your message saying you wanted to break up.  

-Mikael Setiawan-
081015
Coffindo

CS Bandung Writers' Club 2nd Meeting

Kelingking

Di sebuah negeri dua dimensi, hiduplah raja yang tegas dan bijaksana. Rakyat memanggilnya "Keling King". Mengapa? Karena ia raja yang hitam. Keling. King.

Tanpa Kelingking, warna sering leleh merambah bidang yang bukan bagiannya. Bentuk sulit dipahami. Dan bidang putih tak tahu harus menjadi apa. Keling King selalu menjadi batas yang memperjelas setiap bentuk dan bidang. Seperti pada suatu hari, sepotong limas berwarna kuning datang menghadap Keling King.

"Keling King, semua makhluk bilang hamba adalah segitiga. Padahal hamba ini limas. Apa yang harus hamba lakukan agar orang-orang percaya?" tanya Limas agak putus asa. "Sangat sulit membuktikan identitas hamba. Masalahnya, limas adalah bangun tiga dimensi. Padahal kita hidup di negeri dua dimensi..." lanjut Limas.

Keling King mengangguk-angguk arif. Tanpa banyak bicara, ia menerapkan kebijaksanaan garis kelingnya. Sekejap rakyat yang sangat dikasihinya itu menjelma menjadi makhluk dua dimensi yang tiga dimensi. Seperti ini:

(gambar segititga biasa)

menjadi

(gambar segitiga yang udah dikasih garis-garis supaya keliatan jadi limas)

Limas pulang dengan sukaria. Kali itu, ia jadi dapat membuktikan bahwa ia adalah limas, bukan segitiga.

Pada bidang-bidang putih yang kosong, Keling King juga sering hadir menorehkan huruf-huruf atau mencipta bentuk-bentuk sederhana. Bidang putih selalu senang karena dengan begitu, mereka jadi mempunyai isi dan arti.

(gambar stick man pake payung, ada awan dan ujannya)

Tapi adakalanya pula Keling King dibantah. Warna kadang-kadang enggan dipagari. Mereka melanggar batas Keling King, atau kadang memang sengaja ingin berbaur dengan warna lainnya. Kadang warna pun tahu cara menciptakan tiga dimensi dalam dua dimensi, tapi garis yang ditarik Keling King. Rakyat yang mencintai Keling King mencoba memperingatkan agar Keling King berhati-hati. Tetapi dengan penuh kesadaran, Keling King membiarkannya.

"Bagiku, kesejahteraan bentuk di atas segalanya. Aku tidak perlu menghukum warna jika dalam pemberontakan mereka, mereka tetap menjaga bentuk ..."

Kadang diam-diam Keling King menyusup di sela warna. Bukan sebagai batas yang tegas, tapi sebagai bayang. Sebagai kesan. Ia tidak memerangi pemberontakan, tetapi mencari tempat di antaranya. Jari kelingking adalah lambang perdamaian. Itu sebabnya, Keling King pun senantiasa menjaga kedamaian.

Di dunia bentuk, Keling King memimpin dengan kearifan yang istimewa. Kuasa dan kebijaksanaan berdamping sama tingginya ...

-sundea-
051115
Giggle Box

CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Voted as Favorite Story of The Night

Saturday, November 21, 2015

Janji Kelingking

Dari kelima, eh salah, kesepuluh jari tanganku aku paling benci jari kelingking. Jari paling kecil tetapi paling mengintimidasiku. Seandainya ada phobia terhadap jari kelingking, mungkin aku sudah mengidapnya. Pinky phobia, begitu aku menamai seenaknya.

“hahaha…hahaha…haha” suara kawan-kawanku menggema, mereka sedang menertawakanku. Ingin aku tutup telingaku, agar suara menyakitkan ini tidak perlu kudengar. Ini bukan pertama kalinya mereka mengejekku, mengejek kelingkingku.

“masa anak cowo kelingkingnya ngetrill” ejek Adi
“kaya anak cewe aja” sahut Eko
“banci..ih..banci” Budi menimpali

Aku hanya bisa diam, tanganku mengepal menahan amarah. Aku marah dan benci pada jari kelingkingku. Seandainya aku bisa menahan jari kelingkingku jangan sampai jari paling ujung ini naik saat aku mengangkat barang, pasti sudah aku lakukan dari dulu. Ingin sekali kelingkingku ini bisa aku lem bersama dengan jari manis.

Pandanganku mulai kabur, air mata sepertinya mulai menggenang di mataku.
“iih..cengeng..anak cowo cengeng” mereka tambah mengejekku.
“banci ga punya ibu…hahaha"

telingaku berdenging mendengar ejekan itu. Ejekan mereka sudah kelewat batas, terlalu menyakitkan. Aku bukanlah anak yang gampang emosi, tetapi kali ini aku tidak bisa menahan diri. Kuayunkan kepalan tanganku, bukan maksudku untuk memukul mereka, hanya berusaha untuk menghalau. Namun ternyata kepalan tanganku mengenai muka Adi. Kacamata yang ia kenakan pecah dan kacanya mengores mukanya dan tanganku. Darah mengalir dari mukanya dan tanganku. Tangis adi pecah, sedangkan aku hanya bisa gemetar.

Eko dan Budi berlari memanggil-manggil ibu guru. Bu guru lalu mengobati luka kami. Jika adi menangis meraung-raung, aku tidak menangis sama sekali. Bukan karena aku sok kuat, tetapi karena aku takut, takut sekali. 

Apa yang aku takutkan terjadi, bu guru memanggil ayahku. Dibatasi meja bu guru duduk di kursi, di depanku dan ayah.
“Pak, anak bapak tidak sepenuhnya salah ketika memukul temannya, ada andil dari anak-anak itu juga. Mereka memprovokasi Andi dengan mengejek"
“Namun saya memanggil anda juga untuk membantu agar Andi lebih bisa berbaur dengan anak-anak lainnya”
“Kenapa dengan anak saya bu?” tanya ayah
“hmm..bagaimana ya menjelaskannya. Begini pak, menurut saya Andi terlalu pendiam sehingga terlihat feminin akibatnya beberapa anak sering menggangunya. Saya harap dia berubah agar dapat berbaur dengan anak lelaki yang lain” jawab bu guru.
Ayah diam sementara aku hanya bisa menunduk. Bu guru kemudian bersiap melanjutkan cerita, namun ayah langsung memotong.
“Tidak perlu dilanjutkan bu, saya sudah mengerti” tukasnya.

Dalam perjalanan pulang, pikiranku berkecamuk. Aku benci kelingkingku. Mengapa hanya karena itu mereka bilang aku banci, memang apa salahnya aku pendiam, apa salahnya kelingkingku ngetrill.

Setelah sampai di rumah, ayah mengajakku ngobrol berdua. 
“Ayah, maafkan Andi” ucapku membuka pembicaraan.
“Andi akan berubah, menjadi anak yang kuat dan tidak seperti banci, menjadi anak yang tidak akan membuat malu ayah lagi” leherku terasa tercekat.
Ayah menatapku tajam, aku siap merima luapan amarahnya.
“Andi, kamu anak yang baik. Kamu samasekali tidak membuat ayah malu. Kamu bukan banci, merekalah yang banci, karena meraka yang beramai-ramai mengejekmu” jawabnya lembut.
“Ayah, aku benci kelingkingku” ucapku dengan mata berkaca-kaca.

Ayah meraih kelingkingku lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingkingku.
“Andi, jangan kamu membenci kelingkingmu, karena ini adalah jari yang paling istimewa, ini adalah jari yang mengikat janji kita berdua”
“Andi, berjanjilah pada ayah kalau kamu akan selalu mencintai dirimu sendiri, berjanjilah untuk mencintai kelingkingmu"
“Janji..yah” sahutku parau dan airmataku pun mengalir hangat.


Ada kalanya hal yang paling kita benci menjadi hal yang paling kita sayangi dan mungkin begitu pun sebaliknya. Tapi biarlah itu menjadi ceritaku selanjutnya.



-Alin Sujatmiko-
051115
Giggle Box

CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Lelaki Pemalu

Sudah lama aku menaruh hati padanya, namun hanya berani curi-curi pandang saja. Aku selalu merasa mungkin sudah ditakdirkan ketika pandangan kita beradu di hari itu. Aku ingat saat itu bulan Juli, saat ketika toko sibuk luar biasa  karena menyambut lebaran. Saat itu aku sedang memandang dari  etalase jendela dan sudut mataku bergetar pertama kali melihatmu.

Pandangan pertama yang membuatku terpukau adalah rambutmu yang hitam tergerai, berombak-ombak tersapu angin sungguh menawan dan yang paling membuatku terpukau adalah matamu, sungguh mati, baru pertama kali aku melihat mata sejernih itu. Ah paling hanya 10 detik aku memandang matamu,  tapi aku seperti tersedot, berputar-putar, seakan tertarik dalam sebuah dimensi yang lain.

Entah ini sudah takdir atau memang keberuntungan semata, si mata indah itu masuk kedalam toko dan ternyata ini adalah hari pertama dia bekerja disini. Di toko ini. Di tempat yang sama denganku.

Hari berganti hari, berganti minggu berganti bulan, tapi..ah..aku belum punya keberanian untuk berkenalan dengannya, apalagi menyatakan perasaanku padanya.

“aku ingin menegurnya” ucapku pada temanku yang berdiri di sebelahku
“siapa?” tanyanya
“pegawai baru itu” sahutku
“ya tegur saja, apa sulitnya, kasih boneka, kasih hadiah..siapa tau kalian bisa kencan” cerocosnya. Kurasakan nada nyinyir dalam jawabannya dan entah kenapa ucapannya membuat hati ku nyeri. Menyadarkanku bahwa aku adalah  seorang lelaki pemalu.

Namun se-pemalu apapun kalian, kalian pasti pernah jatuh cinta kan, rasanya sesak dan jutaan kupu-kupu berputaran di perutmu. Sekali dua kali mungkin masih bisa kalian tahan perasaan ini, tapi toh pertahananmu akan bobol juga pada akhirnya. 

Minggu berganti bulan, Juli bergeser menjadi Agustus. Awal bulan inilah waktu yang kunanti. Saat dimana karyawan bekerja lembur untuk menata toko dengan desain dan tema yang baru. Aku bertekad, hari ini saatnya bertindak. Semua sudah kurancang dengan rapi.

“hai” sapaku padanya
Kau hanya terdiam.
“siapa namamu?” 
Aku pandang matamu, Kegugupan melandaku dan kau masih terdiam.
“bolehkah aku berkenalan denganmu”
Kau masih juga diam.

Lalu kurasakan jarimu di tanganku. Kehangatan menjalar merayap hingga menusuk kedalam rongga dadaku. Kubiarkan engkau melucuti pakaianku, lalu celanaku, lalu kau lepaskan tangan kananku, lalu tangan kiriku, lalu kau pisahkan badanku dengan kakiku.

Kau pakaikan baju dan celana baru untukku.
“terima kasih” ucapku dengan tulus.


Tanpa suara, kau melangkah pergi. Bergerak menuju boneka pajangan lainnya. Ah, andai engkau tahu betapa inginnya aku mengetahui namamu nona manis.



-Alin Sujatmiko-
221015
Cabe Garam
CS Bandung Writers' Club 4th Meeting

Gelembung Kenangan

Hari ini hari minggu. Aku mengusap keringat, campuran antara lelah berjalan dan lelah pikiran. Mobil yang kukendarai ku parkir di jalan ganesha, karena jalan dago hari ini ditutup untuk CFD. Aku berbaur dengan keramaian orang yang sedang asyik mengikuti CFD. Pakaian yang kukenakan sedapat mungkin serupa dengan tampilan mereka, kaos oblong dipadu dengan celana olahraga dan sepatu kets. Sekilas pun dapat terlihat tidak ada bedanya antara aku dengan orang-orang lainnya. Namun berbeda dengan mereka yang mencari hiburan atau wisata kuliner, mataku jelalatan mencari satu booth yang sudah aku incar dari satu bulan yang lalu.

Kukeluarkan iphone dari saku celanaku, membaca ulang hasil catatan dan browsing mengenai ciri-ciri booth yang aku maksud. Pendek sekali sebetulnya informasi yang kudapatkan, namun kurasa sudah cukup jelas.
Pada notes iphone beberapa poin yang aku tuliskan :
    penjaga bapak-bapak berkumis usia kurang-lebih 30tahun
    booth hanya sebuah meja dan dua buah kursi berwarna biru muda
    terpasang sebuah X-banner bertuliskan “jasa gelembung”

Jalanan yang penuh sesak dengan orang, membuatku cukup kesulitan mencari, mau tidak mau aku hanya bisa berjalan lambat menyelusup diantara kerumunan orang sambil mataku melirik ke kiri dan ke kanan. 

“ah itu dia boothnya” pekik ku tertahan, melihat sepasang meja kursi berwarna biru muda. 
Kulihat ada X-Banner sederhana berwarna putih dengan font warna hitam tebal. Kudekati meja tersebut dan penjaganya memang benar seorang bapak berkumis!. 
“memang hebat teknologi masa kini, asal rajin mencari apa juga bisa kita ketahui” batinku.
“punten pak” sapaku kepada bapak penjaga.
“mangga neng, butuh jasa hapus?” jawabnya to the point.
“eh, iya pak” sahutku dengan kikuk
“boleh diterangkan nggak pa maksudnya jasa hapus ini apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
Padahal dari hasil browsing di internet dari A sampai Z sudah tertulis lengkap jasa yang ditawarkan hingga harganya.
“oh boleh..boleh. Silahkan ini brosurnya” sahutnya sambil menyodorkan brosur.

Kudengarkan penjelasannya sembari kubolak-balik brosur yang tadi diberikan si bapak.
“jadi intinya jasa gelembung ini untuk mengeluarkan pikiran-pikiran yang ingin dibuang. Nanti tinggal dilist aja sama eneng memori apa aja yang ingin dibuang,”
“ada resikonya ga pa?” tanyaku
“yah, kalau resiko sih bisa dibilang ga ada. Cuma memori yang pengen dihapus ga bisa dibalikin lagi. Oh iya, uang yang sudah dibayarkan juga tidak bisa diminta kembali”

Aku menggumam tidak jelas. menimbang putusanku.
“gimana neng?” tanya bapak itu
aku terbangun dari lamunan  
“ah nekat ajalah! masa mau mundur udah nyampe sini” batinku.
“oke pa, jadi. Berapa lama ini waktunya?”
“cuma 15 menit aja neng kalau ga banyak mah. Silahkan dituliskan memori apa yang ingin dihapus”

Pikiranku langsung melayang mengingat kejadian jahanam itu.
“27 November dan 4 Desember 2013” kutulis tanggal itu di kertas yang tadi disodorkan bapak itu.
“wah dihapus semua ini neng, semua memori di dua hari itu?”
“hapus aja semua pak, ga perlu dipilih lagi”

Bapak itu lalu memasang sebuah helm ke kepalaku. Selang yang terpasang pada helm itu lalu dikencangkannya dengan baut. Lalu disambungkan selang itu menuju sebuah botol plastik.
“siap neng?” tanya bapak itu.
“oke pak, silahkan” jawabku
Lalu kudengar bunyi “Klik”, bunyi tombol ON pada helm yang ditekan.

Kurasakan sengatan listrik di kepalaku, lalu kemudian beberapa menit kemudian perlahan-lahan dari selang mengalir keluar tetesan merah muda masuk menuju botol. Sambil menunggu kulayangkan pandanganku, kearah keramaian orang di CFD, sedikit terlelap.
“sudah neng” sahut bapak itu.
Kualihkan pandanganku padanya, kulihat dia mengambil botol plastiknya. Ah, hanya berisi 3 tetesan kecil saja. Dia masukan air hingga hampir memenuhi botol dan dikocoknya botol tersebut, seketika muncul buih-buih berwarna-warni di botol.
“silahkan” kata bapak itu menyodorkan botol berisi memoriku
Kusodorkan uang lembaran 100ribuan
“dikemanain ini pak botolnya?” tanyaku
“oh ini sudah bisa dijadikan mainan gelembung sabun, mau neng mainkan sendiri bisa atau mau neng jual ke tukang balon sebelah juga bisa”

Kuputuskan untuk menjual botol memoriku ke tukang balon, apapun isinya aku malas menyimpan botol itu. Pastilah jika aku memutuskan untuk menghapusnya, tentu itu sebuah kenangan yang buruk dan menjijikan.

Aku berjalan menuju tukang gelembung sabun
“mang, mau beli” tawarku kepada tukang gelembung
“boleh neng?” jawabnya ramah, sepertinya dia sudah biasa membeli botol-botol serupa dengan milikku.
“5000 gimana?” tanyanya.
“mangga” sahutku cepat, karena sebetulnya aku tidak peduli dengan harganya.


Jadi jika kalian melihat tukang gelembung balon meniupkan gelembung di CFD, mungkin saja disana terselip kenangan-kenangan kami yang menggunakan jasa penghapusan.

-Alin Sujatmiko-
151015
Coffindo
CS Bandung Writers' Club 3nd Meeting

Voted as Favorite Story of the Night

Who are you?

“klik” saklar lampu menyala.
Seberkas cahaya sangat terang menyorot ke wajahku. Mengerjap..mata mulai membiasakan. Sebuah ruangan yang sangat gelap gulita. Tidak ada apapun, tidak ada siapapun. Mataku bergerak liar ke kiri-ke kanan ke kiri lagi-ke kanan lagi.

“HALO” aku berteriak..tidak ada yang menjawab
“halooo”…”halooo”… bukan jawaban hanya echo yang berulang-ulang seakan memantul dari satu ujung ruangan ke ujung ruangan lainnya.
“hei apa itu” tiba-tiba sudut mataku menangkap secercah cahaya. Kusipitkan mataku “HALO..HALO..SIAPA DISANA?” aku berteriak. 
Cahaya itu semakin terang, lalu bergerak mendekatiku. Dari cahaya tersebut muncul seekor kucing besar berwarna biru. Kucing itu bergerak lalu diam di hadapanku. Sembari mengeong, ia gesekan kepalanya ke badanku..bertingkah laku manja seakan minta kuelus-elus. 

Belum sempat aku mengelusnya, seberkas cahaya tiba-tiba muncul di sebelah kananku. Wah sekarang seorang wanita yang sangat seksi keluar dari cahaya tersebut, terbalut dress berwana hitam dengan bibir terpulas gincu yang merah menyala.
“hai babe, wanna talk to me?” sebuah kalimat mendesah meluncur dari bibirnya.
Terlalu gugup membalas pertanyaanya hanya kalimat hai yang mampu aku ucapkan. Kucing besar yang sebelumnya datang kembali merengek meminta perhatianku, dia goyang-goyangkan ekornya dan mengeong kepadaku.

Ah, lagi-lagi seberkas cahaya tiba-tiba muncul, sekarang tepat didepan mukaku, terang sekali, sampai mataku terasa berkunang-kunang.
Seorang lelaki perlente keluar dari sebuah mobil sport, “BRAK” suara pintu mobil yang ditutup dengan kencang. “ASL PLS” ucapnya dengan kaku. Aku terdiam, lidahku kelu. “PIC PLS” ucap sang lelaki itu, masih dengan nada yang kaku.

Kucing kembali mengeong.  Kurasakan sentuhan lembut tangan wanita melingkar di leherku dan kudengar dengusan napas lelaki yang semakin keras. 
Aku membeku. Aku terpaku. Tersentak aku kelabakan mencari lampu saklarku, kutekan tombolnya, kumatikan. Semua cahaya hilang semua kembali gelap.
Lalu di tengah ruangan muncul sebuah tulisan berpendar “DARTH VDR LEFT CHAT”

Kulepas kostum darth vader lalu melangkah gontai keluar dari cubicle warnet.

-Alin Sujatmiko-
011015
Yellow Truck
CS Bandung Writers' Club 1st Meeting