Saturday, November 21, 2015

Who are you?

“klik” saklar lampu menyala.
Seberkas cahaya sangat terang menyorot ke wajahku. Mengerjap..mata mulai membiasakan. Sebuah ruangan yang sangat gelap gulita. Tidak ada apapun, tidak ada siapapun. Mataku bergerak liar ke kiri-ke kanan ke kiri lagi-ke kanan lagi.

“HALO” aku berteriak..tidak ada yang menjawab
“halooo”…”halooo”… bukan jawaban hanya echo yang berulang-ulang seakan memantul dari satu ujung ruangan ke ujung ruangan lainnya.
“hei apa itu” tiba-tiba sudut mataku menangkap secercah cahaya. Kusipitkan mataku “HALO..HALO..SIAPA DISANA?” aku berteriak. 
Cahaya itu semakin terang, lalu bergerak mendekatiku. Dari cahaya tersebut muncul seekor kucing besar berwarna biru. Kucing itu bergerak lalu diam di hadapanku. Sembari mengeong, ia gesekan kepalanya ke badanku..bertingkah laku manja seakan minta kuelus-elus. 

Belum sempat aku mengelusnya, seberkas cahaya tiba-tiba muncul di sebelah kananku. Wah sekarang seorang wanita yang sangat seksi keluar dari cahaya tersebut, terbalut dress berwana hitam dengan bibir terpulas gincu yang merah menyala.
“hai babe, wanna talk to me?” sebuah kalimat mendesah meluncur dari bibirnya.
Terlalu gugup membalas pertanyaanya hanya kalimat hai yang mampu aku ucapkan. Kucing besar yang sebelumnya datang kembali merengek meminta perhatianku, dia goyang-goyangkan ekornya dan mengeong kepadaku.

Ah, lagi-lagi seberkas cahaya tiba-tiba muncul, sekarang tepat didepan mukaku, terang sekali, sampai mataku terasa berkunang-kunang.
Seorang lelaki perlente keluar dari sebuah mobil sport, “BRAK” suara pintu mobil yang ditutup dengan kencang. “ASL PLS” ucapnya dengan kaku. Aku terdiam, lidahku kelu. “PIC PLS” ucap sang lelaki itu, masih dengan nada yang kaku.

Kucing kembali mengeong.  Kurasakan sentuhan lembut tangan wanita melingkar di leherku dan kudengar dengusan napas lelaki yang semakin keras. 
Aku membeku. Aku terpaku. Tersentak aku kelabakan mencari lampu saklarku, kutekan tombolnya, kumatikan. Semua cahaya hilang semua kembali gelap.
Lalu di tengah ruangan muncul sebuah tulisan berpendar “DARTH VDR LEFT CHAT”

Kulepas kostum darth vader lalu melangkah gontai keluar dari cubicle warnet.

-Alin Sujatmiko-
011015
Yellow Truck
CS Bandung Writers' Club 1st Meeting

Kelingking

Saya tidak pernah bisa menggambar tangan dengan baik.

Jari-jari tangan kelihatan seperti lilin yang meleleh di gambar-gambar saya. Seringkali saya menggambarkan genggaman tangan dengan bentuk bulat saja, seperti bola ping pong. Padahal sesungguhnya ada banyak yang bisa dilakukan dengan tangan. Dia tidak hanya melakukan keperluan sehari-hari: makan, cebok, memasukkan anak kunci, menarik ritsleting, sampai mengupil. Tangan juga menyampaikan isyarat. Dia menyapa, menolak, mengusir, menyayangi, bahkan memberikan kehangatan kepada tangan lain yang digenggamnya.

Sahabat saya tertawa ketika saya bilang ingin lebih serius lagi belajar menggambar tangan. Untuk apa? Lebih baik saya belajar menggambar mimik wajah saja, katanya. Lebih baik begitu, karena saya bercita-cita menjadi komikus. Tapi saya tidak setuju. Bukankah seharusnya dia sudah tahu bahwa apa yang saya rasakan seringkali tidak sampai ke wajah saya? Saya pikir tangan saya menjawab pertanyaan lebih jujur daripada mata maupun suara saya.

***

Saya senang menggambar, tapi saya takut tidak bisa hidup berkecukupan bila yang saya lakukan hanya itu. Saya tidak percaya ada cukup bakat dalam diri saya, bahwa akan ada perkembangan yang berarti bila saya terus berupaya menggambar keseharian saya.

Ketika sebuah majalah wanita menawarkan saya pekerjaan sebagai penyunting ilustrasi rubrik tata boga, saya menyambut dengan senang hati. Saya percaya kalau saya bisa melakukannya. Meskipun pekerjaan ini membawa saya pergi dari kota kelahiran saya. Saya mesti berpisah dari sahabat saya yang tetap tinggal di kota itu. Pada hari keberangkatan, dia kelihatan begitu sedih. Saya bilang, tidak usah khawatir. Kita tetap bersahabat. Saya tetap akan berkabar dengannya, mungkin lewat surat, email, atau apalah ... jarak geografis tidak akan mempengaruhi kedekatan hati kami, begitu janji saya kepadanya.

Namun, gerak-geriknya tetap gelisah. Genggaman tangannya basah. Seperti ada yang ingin dia sampaikan, tapi seolah kata-kata juga pergi meninggalkannya.

***

Saya lupa kapan terjadinya perpisahan itu. Waktu berlalu. Sesuai dugaan, tidak perlu waktu lama bagi saya untuk terbiasa dengan kehidupan baru. Pekerjaan saya kini tidak banyak membutuhkan goresan pensil saya di atas kertas. Yidak perlu krayon, spidol, lem atau sapuan cat air. Biasanya saya cukup menjelaskan konsep ilustrasi yang saya inginkan dalam kata-kata, lalu dikirim via email. Lalu para ilustrator atau fotograferlah yang mengerjakannya.

Sudah lama juga saya tidak menggambar untuk kesenangan sendiri. Buku gambar dan komik-komik mini yang pernah saya buat disimpan dalam lemari. Sungguh tidak ada yang bisa dibanggakan. Angan-angan saya untuk menggambar tangan lebih baik tidak pernah dilaksanakan. Gerakan tangan saya semakin mekanis. Dia tidak pernah lagi sungguh-sungguh menyapa, menolak, mungusir, menyayangi, atau memberikan kehangatan pada tangan lain yang digenggamnya.

Lalu saya teringat janji untuk senantiasa memberi kabar kepada sahabat(?) saya. (Bisakah saya tetap menyebutnya begitu?) Saya sudah lupa kapan terakhir saya mengabarinya.

***

Sampai sekarang saya tidak bisa menggambar tangan dengan baik. Tapi mungkin saya bisa coba menggambarkannya dengan kata-kata.

Tangan kiri saya terdiri dari lima jari. Kuku-kukunya kehitaman. Nama jarinya jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking.



-Andika Budiman-
051115
Giggle Box
CS Bandung Writers' Club 6th Meeting


Kelingking

Hari ini, kukenakan sepatu balet hitamku, dan aku adalah angsa hitam dalam Swan lake. Besok, mungkin aku adalah Bjork dalam Dancers in the dark. Di hari lain aku adalah justin timberlake dalam mirror, atau kadang christina aguilera dalam genie in the bottle. Kadang aku hanya berdiri kaku seperti pohon mendengarkan teriakan Rihanna.

Aku suka menari. Kalimat ini terdengar sangat feminin. Tidak apa, karena saya suka menari. Saya tidak perlu pembenaran pada kalimat itu. Menari, menggerakkan tubuh, tangan, kaki, jemari, dari kepala sampai kaki, dari jempol sampai kelingking. Tapi bukan hanya tubuh yang kurasakan bergerak. Jiwaku pun bergerak, mengikuti irama musik. Sepertinya ada hubungan antara musik dan jiwa dengan tubuh sebagai jembatannya. Kadang dengan hanya memiringkan tubuh ketika mendengarkan musik, kurasakan jiwaku bergerak, bergembira. Menari adalah jendela jiwaku. Tarianku bukan tari Bali, salsa atau flamenco. Mungkin tidak berbentuk indah, tapi itulah aku. Tarianku adalah curahan isi hatiku, saluran gelisah jiwaku, obat sakit jiwaku. Aku tanpa tarianku mungkin sama dengan depresi. Setelah menari aku bisa tersenyum kembali, mencoba untuk menjadi kuat lagi.



-Indra Sahril-
051115
Giggle Box
CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Voted as 2nd favorite story of the night

Kelingking

“Halo, apa kabar?”
Dia tidak menjawab. Wajah pucatnya membalas sapaanku.
“Regina? Lebih enakan sekarang?”
Kali ini, dia menoleh. Senyumnya mengembang terpaksa. Aku menaruh bunga favoritnya di atas meja. Di sebelah boneka usang yang selalu dia peluk selama 28 tahun terakhir, setiap malam. Gelas kaca berisi air putih tinggal setengah. Artinya, dia sudah meminum obatnya.
“Aku udah lakuin semua yang kamu minta. Tadi pagi aku pergi ke rumah teman kamu, Borin. Yang rumahnya di Leuwigajah itu. Jauh. Haha. Dianya juga nyaris berangkat kerja. Kalo aku telat dikit aja, mungkin aku nggak akan ketemu dia. Eh, dia tuh pake jilbab ya kalo kerja? Terakhir kita ketemu dia kan, dia nggak pake kerudung gitu. Yang rambutnya sebahu itu, kan? Pangling aja aku pas lihat dia pake hijab.”
Regina masih mengembangkan senyum mendengar ceritaku. Dia mengedip, mengganti anggukan yang berat dia lakukan. Sebisa mungkin aku menahan tangis.
“Salam dari Borin, katanya. Nanti dia main ke sini hari Sabtu. Mau dia bawain cheesecake yang dikasih buah naga. Cheesecake kesukaan kamu, Regina. Hahaha….” Aku duduk di atas ranjang, tepat di sampingnya. Kubelai lengannya yang sekarang kurus. Kukirim doa-doa terbaik seraya aku menyusurkan jemariku di permukaannya. “Nanti aku mau coba cheesecake-nya. Boleh?”
Regina mengangguk menggunakan kedipan lagi.
“Nah, terus habis nganterin Borin ke kantornya dia, aku langsung pergi nyamperin Sania. Dia pengen banget ketemu kamu, tapi tahulah dia pegawai bank. Udah gitu rumah kamu jauh dari banknya dia. Begitu kerjaan kantor beres, harus ketemu macet. Maaf banget belum bisa jenguk. Tadi aja aku ngambil antrian CS dong, biar bisa ngobrol ama dia. Hahaha….”
Regina tertawa menggunakan kedipan lagi.
Kugenggam tangannya yang kurus dengan lembut. Kututup satu sudut selimut yang tersingkap. Selama beberapa saat, aku hanya menatapnya penuh doa. Menunggu dua atau tiga detik sebelum aku melanjutkan cerita.
“Dan aku siangnya ketemu Jay,” lanjutku. “Iya. Mantan kamu. Dia cemas sebenernya, cuma nggak bisa jenguk kamu karena pacarnya yang sekarang posesif abis. Kamu tahulah, apa pun yang berhubungan sama kamu, langsung pacarnya blokir. Aku aja ketemunya sebentar, cuma ngasihin barang-barang dia yang masih ada di kamu. Semuanya udah aku kumpulin kemarin. Kecuali topi merah yang kamu bilang itu, aku nggak nemu. Paling entar kalo aku ada waktu luang, aku cari lagi dan kasihin ke Jay. Salam dari Jay juga. Cepet sembuh katanya.”
Regina paham, menggunakan kedipan lagi. Kali ini senyumnya tidak mengembang. Mungkin karena kisah tentang Jay menyimpan duri yang menyakitkan dalam hatinya.
Aku mulai mengusap keningnya, menyingkirkan sejumput rambut yang jatuh menghalangi pandangannya. Regina terasa dingin. Bibirnya memutih. Selama dua atau tiga menit aku memberi jeda atas kisahku. Kutatap Regina dan kutemani dalam diam. Kugenggam tangannya, kuamati dadanya yang bergerak dalam napas, kutatap matanya yang menatap kosong padaku.
Kadang tatapannya menajam. Kadang tatapannya memohon pertolongan. Kadang tatapannya ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
“Habis ketemu Jay, sebelum aku nyampe ke sini, aku juga ke rumah ibuku. Aku salamin ke Ibu. Aku ceritain soal kamu. Sesuai yang kamu minta kemaren, Regina. Ibu doain, semoga cepet sembuh. Semoga bisa cepetan main lagi ke rumah Ibu. Terus, oh, bentar.” Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil cookies cokelat buatan Ibu, yang kebetulan sore kemarin dibuat khusus untuk Regina. Ibu tahu Regina suka cookies. Pertama kali Regina main ke rumahku, dia menghabiskan semua cookies cokelat dalam toples. Kami semua tertawa dan ibuku tidak pernah melupakannya. “Ini. Dari Ibu,” kataku, meletakkan cookies itu di atas meja, di sebelah bunga favoritnya. “Dikasih doa-doa. Supaya cepet sembuh.”
Regina tertawa, menggunakan kedipannya lagi.
Aku kembali duduk di sampingnya. Memberi jeda dua belas hingga tiga belas menit dalam ceritaku. Kutatap Regina lagi. Setiap senti tubuhnya. Setiap detak napasnya. Setiap kedipannya yang rapuh. Menit kedelapan, aku memeluknya sejenak, mencium aroma conditioner yang khas dari rambutnya. Kukecup keningnya dan kembali kubisikkan harapanku di sana.
Lalu, aku membaringkan tubuhku di samping Regina. Kurangkul dia. Kuajak menatap langit-langit kamar seolah menatap bintang-bintang. Kuusap bahunya, seolah menenangkan anak kecil dari tangis ketakutannya. Kubiarkan Regina bernapas di leherku, seolah menjadikan diriku benteng terkuatnya menghadapi musuh.
Yah, aku mau kok menjadi bentengnya. Menjadi seseorang yang berkesempatan melindunginya.
Setelah kurasa cukup untuk melanjutkan cerita, aku bilang kepadanya, “Aku mau ngasih kamu satu rahasia paling rahasia sejagad raya. Kamu mau dengar?”
Regina mendongakkan kepalanya menatapku. Senyumnya mengembang lebih lebar. Aku tahu, Regina senang rahasia. Regina senang menguak apa yang hakikatnya tersembunyi.
“Rahasianya sepele. Tapi ini rahasia. Sampai sekarang tidak ada yang tahu soal ini. Mau itu Borin, mau itu Sania, mau itu Jay, mau itu ibuku. Atau semua teman-temanku. Paling Cuma Tuhan yang tahu. Tapi kan Tuhan selalu curang. Tuhan selalu tahu apa yang kulakukan. Bahkan tahu semua rahasia-rahasia jagad raya.”
Dalam rintihnya yang menyakitkan, kudengar Regina berkata, “Apa?”
Suaranya seperti kayu lapuk yang nyaris patah. Berderak-derak dan membuat ngilu.
“Rahasianya….” Kukecup keningnya sebelum menjawab. “Aku mencintaimu, Regina.”
Dia memelukku lebih erat, melawan rasa sakit atas tubuhnya yang lemah. Kurasakan dia membenamkan wajahnya di dadaku, merebahkan jiwanya dalam perlindunganku. Lalu, sangat-sangat-sangat jelas… kurasakan bibirnya tersungging. Melukis senyum. Aku bisa merasakannya.
“Aku mencintaimu, Regina,” ulangku. “Dua jam lagi kamu akan melakukan operasi besar atas tubuhmu. Dan aku berjanji aku akan optimis menghadapi operasi itu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap mengirimkan kabar baik kepada teman-temanmu. Kepada Jay, bahkan kepada ibuku. Aku berjanji, rahasia itu akan tetap menjadi rahasia di mana hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
“Aku berjanji, aku akan mati-matian menjaga rahasia itu tetap seperti itu. Karena apa pun yang terjadi, kamu sudah melukis satu warna baru dalam hidupku. Warna yang tidak teridentifikasi enam belas juta warna layar ponsel. Warna itu kamu. Hanya kamu yang punya.” Kukecup keningnya sekali lagi. “Sekarang, Regina, kamu mau berjanji nggak, bahwa kamu bakal berjuang menghadapi operasimu?”
Regina mengedip, menjawab iya. Lalu, dia mengangkat tangan kirinya. Mengacungkan jari paling lemah dan mungil.
Kelingkingnya.
Dengan sabar mata berair, kuacungkan kelingkingku dan kukaitkan di kelingkingnya.

Terima kasih, Regina. Aku tahu kamu akan selalu berjuang. 

051115
Giggle Box
CS Bandung Writers' Club 6th Meeting

Hore

Haha. Konyol. Di antara semua ide brilian yang muncul di tengah meeting, cuma ide cewek dari check in agent ini yang paling bikin kening gue ngerut. Ini maskapai swasta multinasional yang lagi mau rebranding. Bukan mau pesta ulang tahun.
“Kita mungkin ambil consideration sama tema Sky Luxury atau Your Home In The Air. Gimana?” tanya gue ke peserta rapat. Sebagian orang ngangguk. Mungkin antara setuju atau pengen buru-buru take a break. “Oke sip, kita break setengah jam. Lanjut lagi jam… berapa ini? Oh, jam tiga. Kita bahas next available option-nya entar.”
Ruangan pun sepi dalam waktu satu menit. Semuanya menghambur keluar ruangan kayak lagi simulasi emergency landing di pesawat.
Oke, Bos. Jadi gini. Nama gue Tom. Gue kerja di maskapai Indonesia Airbridge, sebuah maskapai regional Asia Tenggara yang tahun ini lagi mau rebranding image dan segala-galanya. Nah, gue kebagian sebagai head project for promotion. Gue bertanggung jawab buat nemuin tema rebranding maskapai, termasuk nyari desain livery yang bisa di-apply ke pesawat, slogan untuk website, cara baru greeting announcement di dalam kabin pesawat, dan lain sebagainya. Gue ganteng, Bos. Kali aja lo butuh informasi itu. Sebab niat awal gue ngelamar ke sini adalah jadi pramugara, biar makin diakui ganteng. Sayangnya gue terlalu pinter kali, ya, jadinya yang nge-outsource gue malah ngangkat gue jadi ngantor.
Lebih parah lagi, Bos, gue sekarang ditunjuk buat jadi bagian penting dalam rebranding. Ya blah bloh lah gue, gimana caranya dapetin ide buat rebranding sebuah maskapai besar. Maka dari itu, gue ngundang nyaris semua divisi di station maskapai gue buat ngumpul di ruang penting. Orang-orang yang penting aja. Yang kalo disuruh mikir ya beneran mikir, bukan sekadar ngupil sambil garuk-garuk selangkangan.
Ada dari divisi flight crew, ground crew, manajerial, ramp, customer service, check in, PSC, dan bla bla bla lain sebagainya Bos, karena yakin lo juga nggak butuh informasi itu. Intinya banyak orang. Mereka semua ngumpul lalu masing-masing nyerahin satu ide tentang apa yang harus menjadi tema rebranding maskapai.
Semuanya oke, Bos. Ada-ada aja ide mereka. Tampak mewah, mahal, dan megah. Ngalahin Garuda Indonesia dan Singapore Airlines, lah. Kami semua ngabisin dua jam buat nyortir mana yang bisa jadi pilihan.
Nah dari semua itu, ada ide konyol datang dari satu cewek. Nama ceweknya Megan. Dia staf check in. Orangnya unyu, bohai, kalo makan nasi goreng pasti dia abisin dulu mentimunnya, baru nasinya. Gue sering ketemu ama dia. Gue deket ama dia.
Okelah, Bos. Gue ngaku. Gue lagi ngejer dia buat jadi cewek gue. Susah amir buat dapetin nih cewek. Jalan pikirannya beda. Jalan pulang dari kerja aja beda dari jalan dia berangkat ke bandara. Nyaris gue ragukan dia sebagai manusia. Megan nggak secakep Megan Fox. Dan suaranya nggak sebagus Meghan Trainor. Cuma kalo udah senyum sambil nyengir, gue suka merinding sebadan-badan, Bos. Persis kayak kerasukan kuntilanak aja gimana. Apalagi pas gue ngobrol lebih jauh ama dia, gue tahu ada yang beda dari dia.
Makanya Bos, gue sengaja ngumpulin berbagai orang dari berbagai divisi buat rapat. Kali aja dia bakalan show up. Eh beneran dia nongol. Abisnya di antara staf check in, Cuma dia yang nggak males-malesan kerja. Sisanya lebih mikirin entar sore mau makan mi kocok di mana atau gimana cara nyantet ini penumpang yang nyebelin.
Nah, setelah semua ngumpulin ide itu, kami semua kaget pas ada satu ide murahan di antaranya. Temanya HORE. Ajaibnya, itu datang dari Megan.
“Kenapa hore?” tanya gue dalam rapat.
“Karena kita bersuka cita menyambut rebranding. Begitu, kan?” jawabnya. Sebagian orang pas rapat tadi ketawa. Atau mungkin keselek jakunnya sendiri.
Aneh kan, Bos, ngapain dia bikin tema HORE untuk maskapai full service yang harusnya mewah dan mahal ini.
Begitu rapat break, gue langsung nyamperin dia. Jelas buat pedekate dan godain aja.
“Idenya bagus,” kata gue, pura-pura berdusta.
“Makasih,” jawab Megan. “Aku bikin karena aku lagi happy.”
“Kenapa happy?”
“Ya karena bos aku ngirim aku ke rapat ini buat ikut nyumbang ide. Dari dulu aku pengen bikin tema HORE buat rebranding. Tapi siapa sih aku ini, Cuma dari bagian check in.”
“Ngebet banget pengen tema HORE. Kenapa sih, Meg?”
“Kan udah aku bilang di rapat tadi. Untuk menyambut suka cita.”
“Kenapa harus, maksudnya? Kita kan bisa sedikit mewah-mewahan dengan kata-kata, supaya pasar kita naik ke penumpang middle class ke atas.”
“Jadi penumpang middle class ke bawah nggak perlu naik pesawat kita?”
“Bukannya kalian sering bete kalo ketemu penumpang kampungan?”
Megan ketawa. “Nggak tau sih kalo temen-temen aku mikirnya gitu. Buat aku, penumpang kampungan itu menghibur. Aku bersyukur mereka bisa terbang bareng maskapai kita.”
“Hah? Kenapa?”
“Karena sebagian dari mereka kan baru pertama terbang. Pasti jadi pengalaman nggak terlupakan buat mereka terbang naik pesawat.”
Gue masih nggak ngerti, Bos. Jadi gue bilang lagi ke dia. “Tapi penumpang kampungan kadang suka ngerusak kabin. We don’t really need them to fly around.”
“Kok kamu gitu, sih? Penumpang kampungan juga bayar lho naik pesawat kita. Maskapai ini bisa tetep terbang karena ada penumpang kampungan yang ikutan nyumbang duit. Kenapa nggak butuh mereka?”
“Eh, maksudnya bukan gitu. Konsep kamu itu, sayang banget kalo cuma sampe situ. Kesannya nggak high class.”
“Nggak perlu high class, kan?”
“Kenapa kamu sayang banget sama penumpang middle class ke bawah? Apa alasannya?”
“Nggak ada alasannya.” Megan mulai ngerutin alisnya. Mungkin dia kesinggung sama kata-kata gue. Dia lalu ngelanjutin, “Buat aku mereka sama. Sama-sama duduk di pesawat, dalam kabin yang sama, pesawat sama, dan terbangnya juga barengan ama yang lain. Nggak misah-misah duduk di sayap atau di mana-mana. Kalo kamu nggak suka ide HORE aku, ya udah. Aku aja nggak mempermasalahkan pas ide aku nggak kepilih. Kenapa kamu jadi ribet?”
“Saya pengen tema kamu ikut kepilih juga. Bonusnya kan gede kalo tema kamu bisa kepilih.”
“Eh, nggak perlu, Mas. Aku nyumbang ide ya nyumbang ide. Bukan karena pengen bonus atau apa. Kalo nggak kepilih ya udah.”
“Kok gitu? Kenapa nggak mau bonus?”
Megan mendengus. Tampak mulai bete ama kerempongan gue. “Mas, aku kerja karena aku cinta kerjaanku ya. Aku nggak mau prioritas utama aku gaji melulu. Ya aku butuh duitnya, tapi kalo aku aja nggak ikhlas ngerjainnya, entar uang yang aku makan jadi pahit juga. Jadi ketika kantor aku sendiri minta ide buat rebranding, ya aku ngelakuin itu karena aku seneng. Semuanya dimulai dari rasa senang aku.”
AKhirnya cewek itu ninggalin gue di koridor dan nggak muncul lagi sampe rapat dimulai kembali. Seriusan, gue jadi ngerasa nggak enak udah ngomong gitu ke dia. APa dia tersinggung? Tapi satu hal yang pasti, gue udah berpikir selama dua puluh menit terakhir. Ada yang perlu gue ubah.
“Oke, udah kumpul semua? Mari kita lanjutin lagi rapatnya. Selama break tadi saya dapat masukan dari beberapa teman. This would sound silly, but I thought, why don’t we give it a shot? Saya mau nambahin satu tema yang bisa kita jadiin pilihan.”
“Tema apa Pak Tom?”
“Hore.”
Sebagian orang di ruangan tertawa lagi. “Kok muncul lagi ide itu, Pak? Kenapa?”
Dengan percaya diri gue bilang, “Karena rebranding ini sukacita dari maskapai. Gue setuju sama alasan itu. Jadi, kenapa nggak kita masukkan sebagai pilihan?”

Pada akhirnya, hore tetap nggak kepilih sebagai tema rebranding karena hasil voting lebih memilih Sky Luxury sebagai tema yang cocok. Tapi gue ngerasa udah ngelakuin hal yang benar. Alasan gue bukan sekadar suka cita, atau karena gue naksir orangnya. Tapi karena Megan benar: Rebranding adalah saatnya kita berkata hore. Bagi semuanya. Bagi penumpang high class atau low class. Bagi mereka yang ingin bersuka cita.

291015
Cabe Garam
CS Bandung Writers' Club 5th Meeting

Voted as 2nd favorite story of the night

Boneka

Halo, namaku Karina. Aku teman baiknya Arta. Kami bahkan tinggal di rumah yang sama.

Dibandingkan gadis lain, kamar Arta tampak sepi. Wallpaper kamarnya merah muda, persis

bocah perempuan berumur sebelas tahun. Persis semua teman sebayanya. Namun Arta nggak

mengisinya dengan begitu banyak boneka. Aku tahu itu karena aku bisa menghitung apa saja

mainan yang ada di sana.

Ada Teddy Bear lusuh yang pernah jatuh ke selokan. Ada boneka monyet berkaki panjang yang

kaki kanannya robek. Ada pula boneka bisque dari Prancis yang sempat popular di rumah ini

ketika film Annabelle tayang di TV.

Aku nggak pernah suka boneka bisque itu. Karena memang mirip Annabelle. Rambutnya

keriting, gaunnya jadul, dan kulitnya ada bercak-bercak kekuningan. Kalau aku bermain boneka

bersama Arta, aku tidak akan meminjam boneka bisque itu.

Di luar boneka-boneka itu, ada banyak Hello Kitty dan figurin empuk dari Walt Disney.

Jumlahnya sedikit, sungguh. Paling ditambah boneka hadiah dari theme park atau dari paman

yang baru pulang dari Australia.

Mengapa aku membahas boneka? Karena aku yakin, setiap malam boneka-boneka itu hidup.

Aku belum pernah melihatnya, sih. Namun mereka seolah-olah hidup. Lihat saja mata boneka

monyet itu. Rasa-rasanya mata itu akan mengedip, meskipun pada akhirnya mata itu tetap

melotot.

Seringkali, aku tidur di kamar Arta, di sebuah ranjang kecil di sebelahnya. Kami akan mengobrol

sebelum tidur, membahas fashion terakhir baju cewek. Misalnya, rok macam apa yang ngetren

di sekolah. Sepatu macam apa yang ketinggalan zaman. Atau haruskah besok mengenakan

gelang-gelang gemerincing di kantin? Atau kalung Suku Maori yang bikin geli itu?

Akan selalu ada hal yang kami bahas bersama. Kalau bosan, Arta akan bercerita tentang anak

cowok ganteng di sekolahnya. Tangannya bergerak ke sana kemari, seperti menari. Kalau

sudah antusias begitu, berarti anak cowok itu betulan ganteng. Sayang aku nggak satu sekolah

dengan Arta. Aku gagal masuk kualifikasi sekolah elit tersebut.

Selain cowok, kapan-kapan Arta akan membahas cerita misteri. Hantu-hantu semacam

kuntilanak, misalnya. Arta bilang, dia pernah melihat kuntilanak di pohon depan rumah kami.

Aku sih belum pernah melihat. Dan aku nggak mau melihat juga. Biasanya, aku akan mencoba

mengganti topik.

“Arta, kita bahas sepatu saja,” kataku suatu malam.

Arta menggeleng. “Kita kan lagi bahas kuntilanak. Ini penting!” sahutnya, dengan gaya anak

sebelas tahun yang bersemangat. Dia bicara soal kuntilanak seolah sedang membicarakan

cowok ganteng di sekolahnya itu.

Aku kan jadi sebal.

“Aku takut, Arta,” kataku.

“Jangan takut, Karina. Itu cuma cerita.”

“Kamu tahu, nggak? Boneka-boneka kamu itu setiap malam hidup, lho! Aku nggak mau bahas

hantu di sini. Di ruang tamu saja.”

Arta memutar bola mata. “Aduh, Karina. Udah aku bilang, boneka-boneka itu nggak hidup.

Semua boneka itu duduk di atas lemari dengan damai. Kadang-kadang kalau aku bangun

tengah malam, mereka masih di sana, kok. Nggak berkeliaran kayak di film-film.”

“Tapi aku tetep aja takut.”

Arta mendengus. Tangannya terlipat di depan dada. Arta sebal. “Udah, deh. Kamu diam aja.

Kita tetep bahas kuntilanak. Habisnya aku yakin, aku lihat ada cewek pake baju putih lagi duduk

di pohon.”

Aku tidak mau mendengar! Aku tidak mau mendengar!

Jadi, aku menutup telinga dan berpura-pura mendengar Arta membahas sepatu bot. Arta tetap

saja membahas kuntilanak, sementara aku mati-matian tidak menoleh ke arah boneka-

bonekanya Arta. Kenapa? Karena boneka-boneka itu juga duduk. Persis kuntilanak. Kaki

mereka menjuntai ke bawah lemari, persis kaki kuntilanak menjuntai dari dahan-dahan pohon.

Boneka-boneka itu juga hanya duduk diam saja, memperhatikan siapa pun yang lewat. Lagi-lagi

persis kuntilanak.

“Arta, aku nggak mau bobo di kamar kamu malam ini!” tegasku.

“Kenapa?” Arta tampak semakin bete. Mungkin sebenarnya dia bete karena aku nggak mau

membahas kuntilanak.

“Aku takut sama boneka kamu.”

“Ih! Aku sebel! Sebel!” Pipi Arta menggembung. Tandanya, dia sangat-sangat marah. “Aku

nggak mau main sama kamu lagi.”

“Habisnya kamu bahas kuntilanak melulu. Kan aku jadi kepikiran boneka-boneka itu.”

“Aku mau bobo!” putus Arta, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Wajahnya

masih bete.

“Ya udah aku juga....”

“Tapi kamu nggak boleh bobo di situ!” seru Arta tiba-tiba.

“Lho, kenapa?”

“Karena kamu nyebelin malam ini!”

Arta lalu menarikku ke kumpulan boneka-boneka itu. Aku disimpannya di antara boneka bisque

dan boneka monyet. Sambil berkacak pinggang, Arta bilang untuk terakhir kali, “Kamu ini kan

cuma boneka Barbie! Jangan banyak request! Dasar kamu nyebelin!”

Jadinya, malam itu aku nggak tidur di ranjang mungil di samping tempat tidur Arta. Padahal di

sana ada lemariku, meja riasku, dan rumah mungil berwarna ungu muda dengan tulisan Barbie

Summer Holiday besar-besar.

Oh, kenapa aku sekarang terjebak di sini?!

“Halo. Selamat datang!” sapa sebuah suara di sebelahku. Itu boneka bisque yang mirip

Annabelle. Dalam kegelapan malam aku melihat kepalanya menoleh, dan matanya berkedip.

“Lihat, Kawan-Kawan! Kita kedatangan tamu dari seberang! Si Barbie sombong yang suka

mengata-ngatai kita kalau Arta nggak ada. Kudengar dia takut kuntilanak. Dia tahu nggak ya

kalau aku setiap malam berteman dengan kuntilanak?”

-Moemoe Rizal-
221015
Cabe Garam
CS Bandung Writers' Club 4th Meeting

Voted as 2nd favorite story of the night

Hore

Pagi ini cerah, hatiku pun ceria. Hari sabtu, saatnya akan bertemu dengan tiga keponakanku. Kadang aku tak sabar menunggu mereka datang ke rumah. Namun seperti biasa, pagi ini aku harus praktek dulu, buka klinik pagi di rumah sakit sampai pukul satu siang. Sabtu biasanya cukup ramai.

Pasien pertama, anak laki-laki usia 5 tahun, datang kontrol setelah dirawat minggu lalu, wajahnya pucat, juga tampak kekuningan... Aku khawatir, kuminta pasienku naik ke tempat tidur. Badannya demam tinggi, konjungtiva matanya tampak pucat sekali, entah berapa kadar hemoglobinnya sekarang, padahal minggu lalu sudah transfusi 3 kantung darah. Dia menderita leukemia, kanker sel darah putih. Selain itu ada komplikasi infeksi di saluran empedunya. Sebenarnya dia sudah pernah berobat ke rumah sakit si ibukota propinsi, namun karena alasan biaya dan jarah yang jauh, pengobatannya tidak dilanjutkan. Jadi dia dibawa ibunya berobat ke rumah sakitku yg relatif lebih kecil dan kurang lengkap untuk bisa menangani kasus leukemia. Aku bilang pada ibunya, anak ibu harus dirawat, dan sebaiknya dirujuk ke rumah sakit di bandung. Aku juga menjelaskan di rumah sakit ini tidak bisa melakukan kemoterapi untuk pasien leukemia. Mendengar kata-kataku tentang dirawat, Rizki-bukan nama sebenarnya- langsung menangis, dia merengek tidak mau dirawat, tidak mau disuntik lagi. Ibunya pun bingung, memohon penjelasan agar boleh tidak dirawat. Aku terdiam sejenak, berpikir. Aku sebenarnya tahu harus berkata apa, namun aku menyiapkan diriku untuk mengatakannya. Dalam jeda itu, sambil kupandang wajah Rizki dan ibunya aku berkata: kalau tidak dirawat, saya takut Rizki tidak akan tertolong. Airmata mulai menetes dari wajah sang ibu, tatapannya penuh kasih sayang. Namun tampak ada keputusasaan, sambil memeluk anaknya dia pun berkata: suami saya menganggur dok, cuma kerja serabutan. Kalau dibawa ke bandung, kami tidak punya biaya untuk bolak balik, dan suami saya tidak bisa kerja dan ikut menunggui Rizki. Saya mencoba tersenyum dan berkata, saya mengerti bu, dan tidak akan memaksa ibu ke bandung. Mari kita usahakan yg terbaik demi Rizki, saya rawat disini, saya transfusi, dan berikan obat yg ada, mudah2an, membaik walaupun tidak sampai sembuh ya bu. Iya dok, biar sementara dirawat disini dulu saja. Iya bu, sekarang ibu ikut dengan perawat saya untuk ke ruang perawatan. Mereka pun keluar dari kamar praktek saya. Perawat saya berkata, pasien berikutnya dok? Nanti dulu sebentar ujarku. Aku merasa perlu terdiam sejenak, mengambil napas. Kegembiraanku tadi pagi, rasanya menguap entah kemana. Masih ada 20 tumpuk status di mejaku. Aku harus bangkit, aku harus tersenyum lagi. Kutarik napasku, kutarik helm untuk menutupi rasa sedihku, kutarik sudut bibirku untuk tersenyum. Bismillah. Aku minta perawatku memanggil pasien berikutnya.

-Indra Sahril-
291015
Surabaya


-