Open.
Itu yang tertera di atas suratnya. Seolah kertas kado cantik itu belum cukup
mengundang siapa pun untuk membuka kotak yang terlindung di dalamnya. Aku membolak-
balik bingkisan mungil itu, mencari petunjuk. Sesuatu yang jelas sia-sia, karena pembungkus
kado di mana pun tak akan meninggalkan ruang untuk diintip.
Ketika aku kembali ke atas tempat tidur, menghempaskan tubuh dengan nyaman di atas
bantal-bantal, kubuka kado kecil itu. Kurobek saja, kubiarkan kertasnya berserakan di atas
lantai. Aku bukan Arvino yang akan membuka kadonya hati-hati, berencana menggunakannya
lagi suatu saat di masa depan. Jadi dalam lima detik, kutemukan kado itu bercangkangkan
kotak kardus kecil berwarna cokelat.
Mungkin isinya cincin lamaran. Mungkin isinya kunci mobil Mercedes Benz yang
kuidam-idamkan. Mungkin isinya gunting kuku. Apa pun dapat bersembunyi di balik kotak
sebesar 5 x 5 cm ini.
Namun begitu kubuka tutupnya, aku hanya menemukan secarik kertas yang digulung.
Warna kertasnya putih biasa, tampak disobek dari HVS 70 gram yang baru diambil dari
kawanan rimnya. Di dalamnya tidak ada surat cinta, maupun puisi-puisi romansa. Hanya satu
kata saja. Dengan tulisan ceker balado.
“Maaf.”
Aku menyunggingkan senyum sebelah dan memutuskan untuk melupakannya.
Esok paginya, aku mendapat kado yang lain. Kali ini bentuknya digital. Notifikasi
kehadirannya berkerlap-kerlip di ponselku, mencari perhatian. Aku menemukannya tepat ketika
aku terbangun dari tidur. Ada kiriman media Whatsapp yang di tengah gambarnya terpampang
segitiga mengarah ke kanan. Ini kiriman video. Dari Arvino. Pesan pengiring kiriman media itu
hanya satu kata: Open.
Jadi, aku mainkan videonya.
Ada Arvino. Di kamarnya yang mungil. Di bawah selimut putih gading bertotol-totol
cokelat, yang biasanya sering kuledek karena persis jerawat. Arvino duduk menyandar.
Kepalanya menunduk merasa bersalah, wajahnya tampak menyesal. Dia membiarkan lima
belas detik pertama tanpa apa pun. Dia menunduk. Menunduk. Melirik ke kamera, tetapi lalu
menurunkan pandang lagi karena merasa bersalah.
Detik keenam belas Arvino bicara. “Maaf,” katanya.
Lalu, ada lima detik lain yang sunyi. Arvino mulai menunjukkan wajah memelas seperti
anak anjing. Biasanya, aku luluh melihat ekspresinya yang seperti ini. Sekarang pun, aku luluh
lagi. Namun aku menolak menyerah. Aku akan tetap mengabaikannya.
“Maaf, Ayank. Maaf. Maafin aku,” katanya, pada detik kedua puluh tujuh dan seterusnya.
“Maafin aku.” Lalu bahunya berguncang dan dia benar-benar menyesal.
Video itu berakhir pada detik keempat puluh tiga.
Kuputuskan untuk kulupakan dan berlanjut mandi saja. Aku harus pergi kuliah pagi ini.
Aku tidak boleh terlambat.
Namun, aku tahu, aku dan Arvino tidak akan bertengkar lebih lama dibandingkan
microwave memanaskan makaroni panggang. Baru dua belas jam sejak terakhir kali kami
beradu argumen, dan jujur saja, ini rekor baru yang berhasil kami capai.
Biasanya, jika aku dan Arvino bertengkar, aku akan memohon-mohon kepadanya dalam
empat puluh menit. Kalau aku yang salah, aku yang meminta maaf. Kalau Arvino yang salah,
aku juga yang meminta maaf. Entahlah, kami sudah terlalu nyaman dengan sistem seperti itu.
Arvino nyaman diperlakukan bak Ratu Elizabeth, di mana siapa pun yang melakuan kesalahan,
semua meminta maaf kepada ratu. Dan aku, karena terlalu mencintai Arvino, rela meminta
maaf sekali pun itu bukan salahku.
Kali ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan kami, aku membiarkan diriku
tidak meminta maaf setelah lebih dari satu jam pertengkaran.
Sudahlah, lupakan.
Memasuki makan siang, aku sudah pulang ke kosan dan menenggelamkan diriku dalam
game online. Inginnya aku meminta maaf kepada Arvino dan mengembalikan romansa kami ke
manja-manjaan seperti biasa. Namun sekali lagi, tekadku sedang kuat. Aku ingin mengulur
waktu maafku.
Sekitar pukul dua siang, pintu kamarku diketuk. Aku menoleh dan bertanya, “Siapa?”
Yang mengetuk di luar tidak menjawab siapa namanya. Dia malah berkata, “Open.” Dan
aku tahu itu Arvino.
Karena aku bukan manusia yang kekanak-kanakan, kubiarkan Arvino masuk ke dalam
kamarku. Dia berwajah sama seperti dalam video. Menunduk. Memelas. Malu. Merasa
bersalah. Berharap aku mau memaafkan dia. Arvino duduk di atas ranjang, memilin-milin ujung
bajunya, dan sesekali melirikku, memintakuuntuk bicara duluan.
Namun aku tidak bicara duluan. Jadi, “Maaf,” katanya, memulai pembicaraan.
Aku membiarkan dua menit dalam kamar itu sunyi tanpa apa pun. Hanya diisi
kecanggungan dan pelasan minta maaf. Sampai akhirnya aku berkata, “Oke.”
“Maaf, Yank,” ungkap Arvino lagi.
“Iya. You don’t need to, actually. Aku udah maafin kamu satu detik setelah kita
berargumen.”
“Tapi kamu nggak ngebales apa pun pesan dari aku.”
Aku tertawa kecil. “Iya, kalau gitu aku yang minta maaf soal itu. Aku pengen Ayanknya
punya waktu aja buat merenungkan diri. Tapi aku udah maafin kamu sejak awal. Selalu maafin
kamu, atas apa pun yang kamu lakukan.”
Arvino mendekatiku. Memelukku. Dan bermanja-manja meminta maaf.
“Maaf,” bisik Arvino sekali lagi.
“Iya, sayang.” Kukecup pipinya. “But please, next time, appreciate yourself.”
“Iyaaa...,” dengungnya. “Iya, maaf.”
“You are beautiful in my eyes. So please, jangan benci sesuatu yang sebenarnya aku
cintai. Oke?”
Jadi begini, semalam kami bertengkar gara-gara aku menggodanya. Kubilang, “lebar”
pada salah satu foto terbarunya di Instagram. Dan Arvino marah. Dia tersinggung karena aku
secara tidak langsung mengatainya gendut. Yah, secara teknis memang begitu. Namun aku
kan hanya menggodanya. Kemudian Arvino marah, beradu argumen denganku, dan
menyatakan opininya secara jelas supaya aku tidak mencandainya untuk sesuatu yang
menyerempet insekuritasnya.
Kemudian, aku mulai balas memarahi. Karena aku tidak suka ketika dia membenci
bentuk tubuhnya. Sudah kukatakan berkali-kali kepadanya, bahwa aku mencintainya atas
bentuk tubuhnya itu juga. Apa pun itu bentuknya.
“Tapi society hates this kind of body,” kata dia membela.
“Well that’s society. And I’m not society. Who do you listen to, Vino? Is it me, someone
who is obviously in love with you? Or is it society, who expect you to be what they thought is
perfect?”
Arvino menunduk.
“What I though is perfect, adalah ketika kamu menerima diri kamu sendiri. Ketika kamu
membuka ruang kecil insekuritas dalam hati kamu itu, lalu mulai kamu isi dengan pemahaman
bahwa, di sini, aku kekasihmu, melihatmu sebagai seseorang, bukan sebagai sesosok jasad
bernyawa.”
Arvino memelukku lebih erat. Sangat-sangat menyesal. “Maaf,” katanya terakhir kali.
Aku tersenyum dan memberikan argumen terakhir. “Aku akan selalu maafkan sebelum
kamu minta maaf. So, Ayank, please open yourself to a healthier mind. You are healthy. And
you are beautiful.” Kukecup bibirnya. “Open.”
-Moemoe Rizal-
191115
Jakarta
Saturday, December 5, 2015
A Rock
Over the years I've been a rock. There are many sides on my rock. There
are sparkling side of my rock, but there's also some hideous part you
don't wanna see.
My sparkling academic achievement, I always went to the best school in town you name it. I went to the medical school of my dream, graduate on time with almost cum laude. I also got a scholarship for a student exchange in Europe. Amazing experience. Then I got a job in Jakarta as a flying doctor, traveling to many places, saving lives, got paid really well.
My love life sucks. I had one puppy love during high school. Nothing during my university years (maybe I was too busy). But, thank God I had someone right now. I don't really know where it leads us, but we'll see.
My friends. I have few good friends during high school, which we still keep in touch until now. They're the best, our days in high school were the best days. Our friendship continues during our college years, we spent those lonely Saturday night together, sharing stories, a cup of tea, and discounted desert after 9 pm. Sometimes we spent hours on the phone talking about anything. And after college, we still visit each other, having a Sunday brunch or just a quick meeting on the lunch break.
My depression. I don't know how it starts, but someday I just don't wanna wake up and get out of my room. Maybe I have to pay the price for my sparkling side. There are days when I don't even brush my teeth or shower. On those days I didn't have any inspiration, I caught up too deeply in my routine life and forget there are more things in the world to see. So, sometimes I need to slow down a little, take a deep breath, do yoga, or even smell a flower. Dancing keeps me sane as I release my dark side with it. I slowly rise and fight against my depression. And I'm trying not to be ashamed of it. Cause I've been a rock.
-Indra Sahril-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting
My sparkling academic achievement, I always went to the best school in town you name it. I went to the medical school of my dream, graduate on time with almost cum laude. I also got a scholarship for a student exchange in Europe. Amazing experience. Then I got a job in Jakarta as a flying doctor, traveling to many places, saving lives, got paid really well.
My love life sucks. I had one puppy love during high school. Nothing during my university years (maybe I was too busy). But, thank God I had someone right now. I don't really know where it leads us, but we'll see.
My friends. I have few good friends during high school, which we still keep in touch until now. They're the best, our days in high school were the best days. Our friendship continues during our college years, we spent those lonely Saturday night together, sharing stories, a cup of tea, and discounted desert after 9 pm. Sometimes we spent hours on the phone talking about anything. And after college, we still visit each other, having a Sunday brunch or just a quick meeting on the lunch break.
My depression. I don't know how it starts, but someday I just don't wanna wake up and get out of my room. Maybe I have to pay the price for my sparkling side. There are days when I don't even brush my teeth or shower. On those days I didn't have any inspiration, I caught up too deeply in my routine life and forget there are more things in the world to see. So, sometimes I need to slow down a little, take a deep breath, do yoga, or even smell a flower. Dancing keeps me sane as I release my dark side with it. I slowly rise and fight against my depression. And I'm trying not to be ashamed of it. Cause I've been a rock.
-Indra Sahril-
191115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 8th Meeting
Wednesday, November 25, 2015
Looking at Your Back
There you are again, in the same seat every week, as I sit in the corner of this pub. Each time I've seen you, you sit alone. Each week has gone by without a chance to see your face. What I could see was your back, broad shoulders and big biceps surrounded by the cuffs of your short-sleeve shirt. You made me curious, but I didn't have the guts to get up and go to your table, to ask your name, or to buy you a drink. However, you have succeeded in making me come here every week. Just to see your back.
One night, I brought my date here. It was a good night. Nonetheless, I kept glancing at your back and of course he finally realised why I'd brought him to this pub, and left right away.
My best friend told me that I should make the first move. Open your heart and have courage. Take a chance. But I never listened to his advice.
Tonight I finally hear my conscience telling me to get my ass up and go over to your table. As I'm walking towards you, I lose control of my body. Just a few more steps to your table, I turn and go back to my corner. Sometime later I realise what happened. I'm too afraid to see your face. What if you're nothing like I've imagined? What if my perfect image is shattered by the reality of you? Call me shallow, but I think it's enough for me to see you from behind. Your perfectly broad shouldered back, which I can only look at and admire. Just like this. Me and your back.
-Mikael Setiawan-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Risa
"Risa!"
Aku membereskan tumpukan kertas di mejaku.
Beberapa naskah permukaannya sudah jadi sarang debu. Bahkan ada yang belum
kusentuh selama beberapa minggu, padahal ...
"RISA!"
"Ya!" Buru-buru aku melangkah ke ruangan
manajerku. Melihat wajahnya sekilas saja aku sudah tahu kalau ada yang tidak
beres. Dahinya berkerut, alisnya bertemu. Tangannya menggenggam dummy buku cerita bergambar tokoh dunia
yang kuletakkan di mejanya tadi pagi. Helen Keller adalah tokoh ...
"Kenapa ilustrasinya begini?" tanya Pak
Heru dengan nada meninggi. Kini dummy
itu dia sodorkan kepadaku, terbuka pada bagian di mana seluruh halamannya hitam.
Tidak ada gambar. Sekilas seperti tidak ada tulisan. Setelah aku dummy
berpindah ke tanganku, Pak Heru membuang mukanya.
"Ee, Pak ...." Aku tergagap, menghadap
punggung Pak Heru. "Helen Keller kan buta dan tuli. Ilustrasi ini
menggambarkan sebuah dunia dari sudut pandang ...."
"Pemborosan," potong Pak Heru tidak
sabar. "Kok kamu nggak tanya saya sih?"
"Menurut saya ...."
Bukan
pemborosan karena pada halaman itu sesungguhnya ada narasi tulisan, tapi dalam
huruf-huruf timbul. Anak-anak bisa membaca dengan merabanya.
Rangkaian kata itulah yang ingin kuucapkan. Namun,
lidahku berhenti bergerak setelah kata 'saya'.
Pak Heru lantas menarik napas panjang. Dia
menggelengkan kepalanya, seperti memaklumi anak usia lima tahun yang masih juga
membasahi kasurnya. "Sekarang kamu revisi narasi dan ilustrasinya. Pakai
ilustrator yang bisa kerja ngebut. Ingat buku ini mesti masuk percetakan dalam
waktu dua hari," katanya.
Ketika beranjak keluar, aku mendengar Pak Heru
menggumam, "Saya heran, kamu sudah lama kerja di sini, tapi masih belum
juga mengerti soal-soal seperti ini." Kata-kata itu serasa menusuk
punggungku.
Saat kembali menghadapi meja, perasaanku bercampur
aduk. Aku benci Pak Heru. Dia seolah tidak mau tahu. Dia sering bilang
seharusnya aku lebih inisiatif, tapi inilah yang terjadi ketika apa yang
kukerjakan tidak sesuai keinginannya.
Dulu ketika pertama bekerja di sini, aku senang
karena mendapat sebuah meja kerja yang luas. Kupikir ada banyak hal yang bisa
kukerjakan di atasnya. Namun pada akhirnya setiap permukaan kosong malah jadi
tempat menumpuknya pekerjaan yang tertunda.
Dan aku khawatir, setiap kata pembelaan, setiap
ungkapan sakit hati yang selalu kutelan, semua menumpuknya di punggung. Karena
saat ini, punggungku sakit sekali.
-Andika Budiman-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Punggung
“Oi. Apa tantangan hari ini?”
“You decide.”
“Yakin, nih?”
Dia ngangguk.
Sambil ngangkat dagu, belagak mau ngasih tantangan
maut, gue mulai muter otak. Jelas, tantangannya mesti bisa gue menangin, tapi
doi masih bisa bersaing kompetitif. Biar adil dong, Bro. Biar nggak berat
sebelah. Gue Cuma butuh waktu sepuluh detik buat meletusin ide, “Nyelamatin
anak kucing sebanyak-banyaknya!”
Dia tercengang kaget. Sambil ketawa. “What? What kind
of challenge is that?”
“Yaaa… challenge is kind is that,” jawab gue, sengaja
harus ngaco bahasa Inggrisnya, biar anti-mainstream.
“How does it work?” Dia mulai ngangkat satu alis.
Biasanya gue suka kesengsem kalo mukanya mulai sok-sok nantang kayak begitu.
Seksi aja Bro ngelihatnya.
“Yang menang challenge, yang paling banyak nyelamatin
anak kucing hari ini.”
“How do we know that we really help a cat?”
“Yaaa… by photo-photo, selfie-selfie, before after and
so on and so on.”
Dia ketawa geli ngedenger gue. “So, before we really
help these kittens, we have to make sure that we take a picture of them, then
help, then take a picture again?”
“Iya. So, so lah, pokoknya. Like that, like that.”
Dia geleng-geleng kepala, masih sambil ketawa geli.
“Okay. Challenge accepted.”
Jadi gini, Bro. Gue, ama si dia ini nih, setiap hari punya
satu tantangan yang mesti diselesain sebelum jam tujuh malem. Iseng-iseng aja.
Kayak anak alay, kagak ada kerjaan. Tapi lumayan, silaturahmi gue makin terasah
ama ni orang, jadi niat gue buat pedekate juga lancar jaya 86. Kadang
tantangannya tuh siapa yang paling banyak makan daun singkong di nasi padang,
siapa yang paling cepet nyampe ke kampus, siapa yang paling murah naik angkot,
atau kemaren tantangannya siapa yang paling banyak dapetin kacang ijo pake duit
lima ribu perak.
Setelah tantangan selesai, pemenangnya boleh ngelakuin
apa pun ke si yang kalah. Sejauh ini doi yang paling sering menang. Atau dalam
kamus gue, guenya yang banyak ngalah. Hihi. Biar dia makin sayang aja ama gue,
Bro. Biasanya, permintaan dia suka aneh-aneh kalo gue yang kalah. Suruh
bersihin ban mobil tetangga, lah. Suruh ngembaliin buah mangga ke pohonnya,
lah. Suruh jagain lilin di tukang sate madura, lah—padahal nggak ada yang
berubah jadi babi, tapi tetep aja gue suruh jagain. Tiga hari yang lalu pas gue
kalah, gue disuruh kenalan ama kuntilanak, terus foto bareng.
“So, what’s the prize for today?” tanya dia.
“Kamu dulu,” kata gue.
“Okay. If I win this challenge, I want you to clean my
closet. I’ve been dying to look for a spare time in arranging all those messy
stuff. Argh.”
“Siaaappp!” jawab gue.
“How about you?”
“Gue? Gue pengen peluk lo.”
“Hug me? Why?”
Gue ngangkat bahu. “Pengen aja. Entar gue kasih tahu
alasannya.”
Lalu, berpisahlah gue ama dia. Dia pergi ke kampus,
gue pergi ke studio musik gue. Kagak ada jadwal latihan atau apa sih. Jadwal
gue hari ini ya menangin challenge yang gue buat sendiri. Jadi, gue datang ke
gang-gang, gue set biar kucing-kucing yang gue temuin berada dalam bahaya. Udah
gitu gue foto, gue selamatin, gue foto lagi. Kan lumayan. Selain bikin ini kucing
bisa latihan jadi fotomodel, gue juga belajar fotografi.
Kucing pertama yang gue temuin warnanya oranye-putih,
agak kurus dan matanya ijo. Tapi pas gue samperin, dianya kabur. Sampe
ngelompat ke halaman rumah orang. Gue kejer dia sepanjang lima gang di RT
sebelah, kagak berhasil juga. Pantesan suka ada istilah kucing garong, ya.
Abisnya mereka kalo kabur ahli banget. Padahal nggak akan gue rampok atau
perkosa juga. Nggak ngerti gue ini kucing barusan kenapa somse amat.
Kucing kedua punyanya Adis, namanya Poxi. Karena gue
udah tanggung nyasar ke gang RT sebelah, ya udah gue mampir di sana sebentar.
Gue fotoin kucing itu kayak yang mau jatuh dari jemuran kosannya Adis, lalu gue
tolongin, dan gue foto lagi pas kucingnya udah selamet. Dibantuin Adis malah.
Sampe 35 take gambar, padahal yang diambil Cuma satu.
Lama-lama ini jadi kayak yang nggak meyakinkan.
Abisnya si Poxi kagak pernah main ke atas jemuran. Kok kayaknya idiot aja dia
mendadak berubah kepribadian dan muncul di atas sana sampe-sampe gue mesti
nolongin segala.
Tapi gue move on, Bro. Gue cari kucing lain.
Kucing ketiga kucing liar lagi. Yang lebih
ramah-tamah, tenggang rasa, rajin menabung, dan apa pun yang jadi judul buku
paket PPKn. Gue kondisiin dia ada di atas pohon jambu deket rumahnya Kades. Gue
fotoin. Lalu, gue turunin lagi, dan gue fotoin lagi karena gue berhasil bawa
doi ke atas tanah. Fotonya sih meyakinkan. Apalagi gambarnya agak-agak blur,
jadi kesannya kayak yang bener-bener darurat gitu.
Cuman bahlulnya, begitu selesai photoshoot, ini kucing
langsung lompat naik ke atas pohon jambu, dan bobo di sana. Sial. Kata Pak
Kades, emang di situ rumahnya.
Udahlah, ya. Si dia nggak perlu tahu kalo kucingnya
nggak pernah perlu diselamatin dari atas pohon.
Kucing berikutnya? Banyak, Bro. Sampe jam tujuh malem
gue udah syuting ama sepuluh kucing. Nyaris di banyak gang dan kampung-kampung.
Ada yang ceritanya kejebak di gorong-gorong, ada yang nyaris digoreng sama
tukang bala-bala, ada yang nyaris ditendang sama tukang nasi padang, ada yang
lagi dikejar anjing chihuahua, ada yang nyangkut di jendela, sampe ada yang
lagi nyeberang gue potoin aja… padahal tuh kucing udah cukup dewasa dan
berhati-hati dalam menyeberang. Cuma tetep aja pas di seberang gue ajak foto
bareng. Ceritanya, gue yang bantu dia nyeberang.
Jam tujuh malem, gue ketemu lagi ma dia. Lokasinya di
atap rumah gue. Gue ajak ke sana. Buat lihat bintang-bintang. Biar romantis.
Biar kayak pujangga.
“How was your day?” tanyanya.
“Penuh kebaikan,” jawab gue, berusaha terdengar bijak.
“So your day how was?”
Dia ketawa. Selalu ketawa ngedenger bahasa Inggris
gue. “It was fun. But I didn’t get many pictures of me helping cats in
emergency.”
“Coba mana fotonya?”
Dia ngasih tunjuk tiga foto doang. Fotonya sih
believable, kayak bener-bener emang butuh bantuan tuh kucing. Ada yang kejepit
di pagar. Ada yang masuk ke sumur. Dan ada yang lagi nyari anak-anaknya. Gue
sampai nangis Bro lihatnya.
“Your turn,” kata dia.
Ya udah, gue tunjukin semua foto yang gue dapet. Dia
ketawa. Jumlahnya sih banyak. Dan kayaknya dia ngeh juga kalo gue malsuin
nyaris semuanya kayak anggota DPR cuci uang hasil korupsi mereka.
“Looks like you win, tonight. Congratulations.”
Gue lemparin cengiran lebar.
Dia lalu ngerentangin tangannya, membiarkan tubuh dia
buat gue peluk. “So, come here. Hug me.”
Dengan senyum yang lebih romantis, gue berjalan
muterin dia. Berjalan ke belakang dia. Lalu gue peluk dia dari belakang.
Dia heran. “You want to hug me from the back?”
“Yoyoy.”
“Why?”
“Gue pengen nyentuhin badan gue sama punggung lo.”
Dia ketawa. “And why is that?”
Giliran gue yang ketawa. “Meluk dari belakang gini
tuh, ngerangkul badan lo dari punggung, ngebikin gue bisa ngelindungin lo lebih
erat. Lebih waspada. Dan lebih aman.”
“That’s not even related.”
“Related, kok,” sanggah gue. “Lo lihat tangan gue
sekarang? Tangan kan organ yang paling lincah dalam melindungi diri. Karena gue
meluk dari punggung, tangan gue bisa terjulur ke depan, posisinya lebih deket
sama hati lo. Lebih aman buat ngelindungin lo.”
Dia nggak ketawa. Tapi senyumnya yang tulus bisa gue
rasain dari pipi kami yang akhirnya bertemu. Lalu, sambil berbisik, dia
berkata, “You know what. I love today’s challenge. And I’m glad that you won
the game.”
-Moemoe Rizal-
121115
Cafe Halaman
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Voted as Favorite Story of The Night
Punggung
Jika ada yang diberi pertanyaan, "Apa yang paling kau ingat
tentang mantan kekasih terakhirmu?" mungkin mereka akan menjawab,
"Hangatnya," "Senyumnya," "Wanginya," "Matanya," "Hidungnya," atau
bahkan, "Ciumannya."
Dan aku akan menjawab, "Punggungnya."
Ah, mana bisa kulupakan kau dan punggungmu itu. Punggung
yang sama sekali tidak kokoh sebenarnya, karena kau termasuk sangat
kurus untuk ukuran pria seumuranmu. Tapi punggungmu itu, ya, yang kurus
ceking itu, adalah punggung yang selama ini menentramkanku. Punggungmu
itu selalu menyembunyikanku dari dinginnya angin malam kota Bandung
sehabis hujan. Kau tentu ingat betapa erat pelukanku di atas motor
tuamu. Dan punggungmu selalu bisa kujadikan sandaran dan penampung air
mata. Sudah kubilang aku berjanji tidak pernah menangis di depanmu kan?
Aku menepatinya. Aku sering menangis diam-diam di belakangmu. Aku tau
bahwa kau tau itu. Tapi aku tak peduli selama kau tetap pura-pura tak
peduli.
Sampai kini aku masih bertanya pada semesta, mengapa harus
punggung kurus ceking favoritku itu menjadi hal yang terakhir yang
kulihat darimu di lorong samping laboratorium setelah kau berkata lirih,
"Kita sampai di sini saja ya Dik, aku mau kembali pada tunanganku di
Surabaya."
-Rahadini Windia-
121115
Malang
CS Bandung Writers' Club 7th Meeting
Our Plushies
Let's go back to the first time we met. It was the eye contact, although we quickly turned our heads away, that I remember. I still remember how you bashfully tried to
look at me when I didn't look at you. I didn't even get your name . We
always went to that coffee shop on the same day of the week, at the same
time, and we sat opposite each other. I guess we both enjoyed our
non-conversational meetings. I usually arrived first and would anxiously
wait for you. But one day when I was running late, I finally got your
name. The barista called your order while I was waiting in line. That
same day I finally had enough courage to go up to your table and ask you
for a date.
Our first date was bizarre and disastrous.
We missed our reservation at the restaurant, so we decided to eat at a
diner instead. How weird was it when the waitress accidentally knocked
over your drink and soaked your shirt? You went to the toilet but all
the hand dryers were broken. So you sat back down and continued eating
with your wet shirt. We cancelled going to the cinema because I didn't
want you to get sick. We couldn't find a taxi so we had to walk home.
None of that put us off. At least our later dates went well.
Our
first-month anniversary brought us a new tradition. You gave me a teddy
bear. Soon our history was filled with stuffed animals. A panda for
Valentine’s day. A reindeer for Christmas. A dog for our
one-year-anniversary. A giraffe for your birthday. A penguin when we
decided to move in together. A lion for my birthday. An orca whale for
your promotion at the office. And an elephant when I asked you to marry
me.
So now here, in front of God, people that we love
and love us, and all our stuffed animals, I promise to bring you joy, I
promise to be there for you to cuddle, I promise to lend you my shoulder
to cry on, just like our plushie. So, I, John take you, Paul as my
lawful husband, for better or worse, in sickness and health, till death
do us part.
-Mikael Setiawan-
221015
Cabe Garam
CS Bandung Writers' Club 4th Meeting
Voted as Favorite Story of The Night
Subscribe to:
Posts (Atom)